Juara Berkat Empon-Empon

135

Melihat Desa-Desa Unggulan di Jawa Tengah

Memasuki gerbang Desa Patemon dari arah Kota Kecamatan Tengaran, Kabupaten Semarang, terasa menentramkan. Tanaman empon-empon untuk bahan obat herbal menghijau di sepanjang jalan. Tanaman itulah yang menjadi andalan warga Desa Patemon untuk menambah penghasilan selain pertanian. Bahkan dari tanaman obat itu, Desa Patemon menjadi wakil Provinsi Jawa Tengah dan berhasil meraih juara desa toga (tanaman obat keluarga) terbaik tingkat nasional pada Maret 2014 lalu.
Desa Patemon berada sekitar 50 kilometer dari kota Ungaran. Namun lokasi desa sangat strategis, sebab berada sekitar 7 kilometer dari kota Salatiga dan berbatasan langsung dengan Kabupaten Boyolali. Sehingga warga yang mayoritas bermata pencarian sebagai petani tidak kesulitan untuk menjual hasil panen. Warga Desa Patemon selama ini menanam empon-empon seperti jahe, kunyit, temulawak dan lainnya di halaman masing-masing. Hasil panen biasanya dijual dalam kondisi basah, yakni utuh berwujud tanaman. Selain itu dalam bentuk kering yakni tanaman yang sudah dipotong-potong dan dikeringkan.
Kepala Satuan Tugas (Satgas) Toga Desa Patemon, Kabul Budiono, 51, mengatakan, warga sejak dulu kala secara turun temurun menanam empon-empon sebagai bahan pembuatan jamu. Sehingga perangkat desa tidak kesulitan dalam menata warga untuk menciptakan komoditas yang dapat menghasilkan uang secara kontinyu. Kondisi tersebut sudah tercipta sejak dulu, sehingga saat ini tinggal melanjutkan saja. Apalagi warga sudah merasakan hasilnya bahwa empon-empon dapat meningkatkan pundi-pundi uang selain dari pertanian padi.
Warga semakin yakin dari pendapatan menanam empon-empon sebab di Jawa Tengah terutama di Kabupaten Semarang ada pabrik jamu besar yang membutuhkan banyak tanaman empon-empon untuk bahan baku jamu. Sehingga warga terus menanam empon-empon di setiap pekarangan. Hanya saja untuk saat ini warga baru mulai akan mengolah tanah untuk memulai penanaman.
“Usaha tanaman obat keluarga ini telah ada sejak jaman nenek moyang kami. Upaya pelestarian terus berjalan secara turun temurun hingga saat ini. Kondisi itu memudahkan untuk pembinaan karena warga sudah memahami cara penanaman dan hasilnya. Sehingga menanam empon-empon bisa tetap lestari sampai sekarang,” jelas Kabul.
Menurut Kabul, tanaman empon-empon mudah tumbuh dan dapat ditanam pada jenis tanah apa saja. Selain itu biaya perawatan rendah, sehingga warga akan mudah menanaman dan dapat mendapatkan keuntungan. Seperti tanaman kunyit, banyak ditanam warga karena memiliki nilai ekonomis lumayan tinggi.
“Karena alasan itu, kami mengembangkan secara massal tanaman kunyit dan tahun lalu bisa panen total 41 ton,” ujar Kabul lagi.
Pemasaran hasil toga desa Patemon, melalui Koperasi “Artha Farma” Regunung. Koperasi tingkat Kecamatan Tengaran itu, menurut Kabul, dibentuk untuk membantu pemasaran hasil tanaman obat yang dihasilkan warga. Lewat koperasi itulah, lanjutnya, dijalin kerja sama pembelian dengan dua perusahaan jamu tradisional terkenal tingkat nasional yang memiliki pabrik dan taman jamu di wilayah Kecamatan Bergas.
“Kami juga sudah menjalin kesepakatan secara langsung dengan sebuah perusahaan jamu tradisional tingkat nasional untuk pemasaran produksi toga dari Patemon,” tambahnya lagi.
Salah seorang warga, Tuti Mimaroh, 40, warga RT 12/V Dusun Guntit, Desa Patemon mengaku menanam toga di halaman rumahnya secara turun temurun. Diantaranya jeruk nipis, kunyit, jahe, daun sereh dan laos. “Kami sekeluarga sering memanfaatkannya untuk mengobati masuk angin dan keluhan lainnya. Ada atau tidak ada lomba Toga, warga tetap mengusahakannya karena bermanfaat,” ungkapnya.
Sebagai gambaran, sebelum dipanen beberapa bulan lalu, hamparan tanaman empon-empon seperti kunyit mencapai 14 hektare dan jahe seluas 18 hektare. Selain itu, setidaknya 900 keluarga juga menanam aneka toga seperti temulawak, lempuyang di pekarangan rumah. Jumlah Keluarga di Patemon ini mencapai 1.126, dan 87,6 persen diantaranya memanfaatkan toga.
“Saat ini tanamannya sudah habis dipanen, warga kini baru mulai mengolah tanah untuk mulai menanam,” kata Kepala Desa Patemon, Puji Rahayu, Jumat (23/5). 

Bahkan Bupati Semarang Mundjirin mengatakan bahwa usaha toga di Desa Patemon telah menjadi semacam gaya hidup karena telah berlangsung lama. Pemanfaatan toga  juga dapat menjadi salah satu upaya mengentaskan kemiskinan. “Hasil toga dapat meningkatkan pendapatan warga desa. Jadi mereka nantinya tidak hanya bertani saja namun memiliki tambahan pendapatan dari berbagai jenis tanaman obat itu,” katanya. (tyo/ton)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here