SMK 3 Kembangkan Sistem Alarm Antimaling ke HP

Tim SMK Negeri 3 Salatiga baru saja mengembangkan alarm antimaling. Mereka mengklaim, alarm ini punya kelebihan, dibandingkan alarm yang kini beredar di pasaran.

DHINAR SAS, Salatiga

STAN SMK Negeri 3 Salatiga di ajang pameran pendidikan, kemarin, mendapat perhatian publik. Rupanya, sekolah yang identik dengan jurusan pertanian ini, tengah mengembangkan teknologi di luar bidang mereka. Apa itu? Samekto. Sebuah kependekan dari akronim: sistem antimaling elektronik.
”Ini memang hasil kreativitas kami, yakni Samekto,” ucap Siswanto, guru SMK 3 yang menjadi ketua pengembangan alarm. Dikatakan, alarm konvensional yang ada saat ini, sudah banyak digunakan masyarakat. Fungsi alarm, pada umumnya, jelas Siswanto, ketika mobil atau pintu dibuka paksa, maka alarm bakal bunyi.
Namun, bunyi tersebut terkendala jarak. Tepatnya, ketika mobil, berada di lokasi yang jauh dari keramaian. Sehingga penjaga atau pemilik tidak mendengar alarm berbunyi.
”Masalah lain, jika penjaga dilumpuhkan penjahat. Terkait banyaknya kasus penyekapan penjaga itu, membuat kami memiliki ide untuk mengembangkan alarm, sehingga tetap bisa memanggil penjaga atau pemiliknya,” jelas Siswanto, sambil menunjukkan beberapa peranti yang digunakan. Maka, hasil pengembangannya, alarm tim SMK 3 ini, disambungkan dengan sistem pemancar telepon berbasis sinyal GPRS.
Alat tersebut, lanjut dia, bisa memancarkan tanda kepada tiga nomor telepon yang telah dimasukkan sebelumnya. Begitu pintu dibuka paksa— selain alarm berbunyi— alat tadi langsung mengirim pesan singkat kepada nomor telepon yang disimpan.
”Isi pesan singkatnya adalah SOS alarm. Tapi bisa juga difungsikan tak hanya pesan singkat, tapi menjadi panggilan telepon,” jelas Siswanto, didampingi Ardiana Angga, rekan sesama guru yang merakit Samekto.
Dengan sistem itu, lanjut dia, maka penjaga atau pemilik yang berada di tempat jauh, bisa menghubungi aparat keamanan.
Disinggung tenaga listrik yang digunakan, Angga menambahkan, untuk mobil tetap menggunakan aki. Sedangkan untuk rumah, menggunakan listrik. Hanya saja, dalam setiap peranti tersebut, tetap diberi baterai. Tujuannya, untuk mengantisipasi jika aliran listrik padam.
”Atau, dalam suatu kasus mungkin listrik dimatikan penjahat, maka baterai ini masih bisa berjaga hingga 1 x 24 jam.”
Soal biaya yang dihabiskan untuk membuat satu unit, Siswanto menyebut angka Rp 3,5 juta. ”Kami akan terus berbenah dan mengembangkan agar punya kemampuan lebih lagi.” (*/isk/ce1)