Borobudur Buku Besar Ilmu Pengetahuan

125



OLEH sebagian besar kalangan peneliti dan ilmuwan, Candi Borobudur disebut buku besar ilmu pengetahuan. Potret sejarah peradaban dunia. Namun tetap saja banyak misteri yang belum bisa diungkap di balik keagungan candi ini.
Di setiap jengkal relief candi, menjelaskan secara rigid pelajaran hidup. Juga di kehidupan masyarakat di sekitarnya. Banyak hal yang bisa dinikmati di sekitar Candi Borbudur. Kehidupan masyarakat dan budaya yang berkembang disana. Kehidupan di sekitar menjadi salah satu lukisan peradaban Borobudur.
Bagi umat Buddha, Borobudur adalah tempat ibadah. Mirip Makkah nya orang Islam. Romanya umat protestan. Borobudur selalu jadi magnet dunia saat perayaan Hari Raya Tri Suci Waisak. Puluhan ribu orang hadir di momen peringatan kelahiran, kematian dan pencerahan Buddha itu. Terakhir ada umat dari 20 negara yang hadir.
Bagi dunia pariwisata, Borobudur tentu sebuah keindahan. Tak ada bangunan lain yang seperti itu di dunia ini. Borobudur tetap menjadi magnet bagi kalangan wisatawan lokal maupun mancanegara.
Dalam setahun terakhir tak kurang 2 juta orang berkunjung ke candi buatan Wangsa Syailendra ini. Kini para pemangku kepentingan mulai aktif mengkampanyekan wisata di sekitar candi. Ya, desa-desa wisata tepatnya.
Tentu banyak hal yang ditawarkan dari sana. Banyak desa-desa wisata yang menawarkan keunikannya masing-masing. Ada Desa Wanurejo, Candirejo, Borobudur dan desa-desa wisata lainnya.
Ada kerajinan-kerajinan khas yang ditawarkan dari sana. Makanan juga. Kesenian tradisional pun banyak. Yang tak kalah menarik tentu melihat Candi Borobudur dari kejauhan. Menikmati Borobudur dengan cara yang berbeda dan lebih agung.
Dari Bukit Putuk Stumbu Desa Karangrejo misalnya. Di atas bukit itu, kita bisa menikmati keindahan Candi Borobudur saat matahari terbit. Tegak lurus dengan Gunung Merapi. Jika berkunjung di bulan Juni dan Juli sepertinya waktu yang sangat tepat. Di mana, sang surya akan terlihat begitu jelas terbit diantara Gunung Merbabu dan Merapi.
Di bulan ini, memang cuaca sedang baik. Pergantian dari musim hujan menuju ke musim kemarau. Jika beruntung matahari sempurna akan terbidik dengan tepat. Jika ingin tantangan lain, tamu bisa menikmati sunrise dari Bukit Ndagi. Sebuah puntuk kecil di kawasan Candi Borobudur. Dari sana, pemandangan indah juga bakal menyertai perjalanan menyambut siang hari.
Suasana makin nyaman. Tidak ada bising kendaraan atau pun riuh suara banyaknya pengunjung. Sangat hening, nyaman dan penuh kenikmatan. Banyak yang bilang momen ini seolah membawa pengunjung ke masa lalu Candi Borobudur.
Momen seperti ini, sering pula dimanfaatkan untuk bermeditasi. Terutama para biksu dan penganut ajaran Budha dharma.
Bagi yang tidak sempat menikmati sunrise, tenang saja. Karena ada alternatif berburu sunset. Namun, tidak banyak wisatawan yang memilihnya. Lantaran semakin malam, pemandangan akan semakin gelap. (mukhtar lutfi/ric)

Tinggalkan Komentar: