Solar Bersubsidi Diselundupkan

171

KUDUS – Sebanyak 38 jeriken yang berisi solar berhasil diamankan aparat Polsek Undaan kemarin dini hari. Jeriken tersebut diamankan petugas, karena diduga berisi solar bersubsidi untuk bahan bakar alat berat atau begu.
Kapolres Kudus AKBP Bambang Murdoko melalui Kapolsek Undaan AKP Khoirul Naim mengatakan, penyitaan puluhan solar bersubsidi itu sekitar pukul 00.15 kemarin dini hari. Semula, petugas mendapatkan informasi dari masyarakat adanya solar subsidi yang disalahgunakan. Aparat langsung melakukan penyelidikan, dan ternyata benar.
Akhirnya, aparat melakukan penggeledahan di rumah Kamidi, 30, warga Desa Karangrowo, Kecamatan Undaan, yang merupakan operator begu salah satu perusahaan. Di situ didapati sekitar 38 jeriken yang berisi solar.
”Solar tersebut diduga solar subsidi yang digunakan sebagai bahan bakar alat berat yang digunakan normalisasi Sungai Juwana,” katanya.
Menurutnya, jika setiap begu membutuhkan 100 liter solar dalam satu hari kerja. Sementara ada 16 begu, maka membutuhkan sehari 1.600 liter. Untuk solar nonsubsidi saat ini harga normalnya per liter Rp 11 ribu.
”Maka, tidak mungkin 1.600 liter per hari itu menggunakan solar nonsubsidi, karena harganya cukup mahal. Hal inilah ada indikasi penggunaan solar bersubdisi. Meski begitu, kasus ini masih kami dalami,” jelasnya.
Kapolsek menjelaskan, pihak perusahaan tersebut juga ada bukti Delivery Order (DO) yang terakhir tertanggal 20 Mei 2014 yang tertulis DO hanya 5.000 liter. Artinya, jumlah tersebut hanya mampu untuk mengoperasikan 16 begu maksimal dua hari kerja.
”DO berasal dari salah satu perusahaan di Jalan Kaligawe Semarang. Dan proyek tersebut dimulai awal April 2014,” jelasnya.
Hingga kemarin, Polsek Undaan sudah memanggil empat pekerja proyek untuk dimintai keterangan sebagai saksi. Jika terbukti bersalah, perbuatan tersebut melanggar Pasal 55 UU Minyak dan Gas Nomor 22 Tahun 2001 tentang Tata Niaga Migas dengan ancaman hukuman enam tahun penjara.
Dia menambahkan, jika harga BBM solar bersubsidi secara resmi dijual Rp 5.500 per liter
sedangkan solar nonsubsidi dipatok Rp 11.000 per liter, maka kerugian negara yang diakibatkan dari proyek tersebut cukup banyak. Untuk itu, pihaknya masih terus melakukan penyelidikan kemungkinan keterlibatan Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) yang memasok BBM tersebut. (san/lil)