60 Persen Wilayah Jateng Kekeringan

193

TANAH MAS — Sekitar 60 persen daerah di Jateng dinyatakan rawan kekeringan pada musim kemarau tahun ini. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jateng memperkirakan musim kemarau akan terjadi bulan Agustus – September ini.
Kepala BPBD Jateng Sarwa Pramana mengatakan hampir sebagian besar daerah di Jateng akan terkena dampak kekeringan. Daerah yang rawan kekeringan antara lain, Kabupaten Wonogiri, Klaten, Grobogan, Blora, Rembang, Pati, Sragen, Kabupaten Semarang, Batang, Brebes, Cilacap, Banjarnegara, Purworejo, Pemalang, dan Kebumen.
Musim kemarau diperkirakan terjadi antara Agustus-September. Untuk itu, Sarwa meminta kepada pemerintah daerah melakukan langkah antisipasi menghadapi musim kemarau supaya terhindar dari bencana kekeringan. ”Pemerintah daerah dapat membuat pipanisasi ke sumber air di pegunungan dan membuat sumur tadah hujan,” ujarnya.
Di samping itu, Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) terkait seperti Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air (PSDA) Jateng diharapkan membangun embung dan membersihkan waduk. ”Namun, bila nantinya tetap terjadi kekeringan di daerah, BPBD Jateng akan melakukan dropping air bersih,” ungkapnya.
Sarwa meminta kepada kabupaten/kota yang rawan bencana kekeringan segera mengajukan bantuan dropping air bersih ke BPBD Jateng. Dia menambahkan, sudah ada tiga daerah yakni Wonogiri, Klaten, dan Purworejo yang telah mengajukan permohonan bantuan.
Gubernur Jateng Ganjar Pranowo mengimbau kepada masyarakat melakukan persiapan menghadapi musim kemarau. Warga supaya membuat cadangan sumber air di beberapa titik yang bisa dimanfaatkan saat pada musim kemarau.
”Mumpung sekarang masih turun hujan, masyarakat supaya membuat penampungan air di beberapa titik untuk cadangan sumber air,” tandasnya.
Gubernur menambahkan, pemerintah sudah membuat sejumlah embung di beberapa tempat, tapi bila musim kemarau panjang tidak akan mencukupi kebutuhan air bersih masyarakat. (ric/aro/ce1)