Pasokan Listrik Jateng Makin Kritis

70

SEMARANG – Kebutuhan akan tambahan pembangkit listrik di Jawa Tengah kian mendesak. Pasokan yang selama ini bergantung dari interkoneksi Jawa Bali dinilai tak lagi mampu memenuhi kebutuhan di kawasan ini.
Deputi Manajer Komunikasi, Humas dan Bina Lingkungan PT PLN (Persero) Distribusi Jateng-DIJ, Supriyono mengatakan kebutuhan listrik di Jawa Tengah mencapai 3.100 mega watt. Sedangkan pasokan listrik dari keseluruhan pembangkit di Jateng hanya mencapai 2.500 mega watt. ”Sisanya selama ini kita bergantung dari interkoneksi Jawa Bali. Entah itu dari pembangkit di Suralaya, Paiton atau pembangkit lainnya yang tersebar dari ujung barat hingga timur pulau Jawa,” jelasnya, kemarin.
Sektor industri menjadi pemakai terbesar dari kebutuhan listrik tersebut. Setidaknya 75 persen dari total 3.100 mega watt. Berbanding terbalik dengan kebutuhan untuk sektor rumah tangga. ”Pelanggan sektor industri memang sedikit paling 400 ribu, yang banyak justru rumah tangga, hampir 90 persen. Tapi, industri ini memakan daya yang sangat besar, 75 persen dari total kebutuhan,” ujarnya.
Padahal, ucapnya, tahun depan diperkirakan akan ada relokasi besar-besaran industri dari Jakarta maupun Jawa Barat. Sehingga dipastikan kebutuhan pasokan listrik akan meningkat. Sejauh ini sudah ada 14 perusahaan besar yang mendaftar ke PLN. Rata-rata kebutuhan daya di atas 5 mega watt. Bahkan ada yang mencapai hingga 20 mega watt.
Karena itu, lanjutnya regional Jateng-DIJ harus memperkuat pasokan listrik. Yaitu dengan membangun pembangkit listrik baru. Di antaranya pembangkit listrik Adipala dengan kapasitas 2 x 15 juta watt dan PLTU Batang dengan kapasitas 2 x 1.000 mega watt. ”Namun demikian kalaupun PLTU Batang nantinya jadi dibangun, sebetulnya daya yang dimiliki juga sudah habis untuk memasok kebutuhan industri,” ungkapnya.
Karena itu, lanjut Supriyono, kebutuhan pembangkit listrik baru di Jateng ini sangat mendesak. Bila tidak dipenuhi dikhawatirkan pada 2016 Jateng akan kekurangan pasokan listrik. ”Bila pasokan kurang, tentu berimbas ke berbagai sektor. Takutnya investor juga enggan masuk, karena kesulitan mencari pasokan,” tandasnya. (dna/smu/ce1)

Tinggalkan Komentar: