Kenalan di Warung Nasi Kucing, Ijab Pakai Isyarat Dua Jempol

149

Pernikahan Unik Rochmad-Sarminah, yang Sama-Sama Tunawicara dan Tunarungu

Pernikahan pasangan Rochmad dan Sarminah tergolong unik. Kedua mempelai sama-sama tunawicara dan tunarungu. Praktis, saat menikah di Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Sayung kemarin pun menggunakan bahasa isyarat. Seperti apa?

WAHIB PRIBADI

PAGI kemarin, suasana KUA Sayung cukup ramai. Maklum saja, saat itu akan digelar ijab kabul pernikahan unik. Dikatakan unik, karena kedua calon pengantin sama-sama sama tunawicara dan tunarungu alias tak bisa bicara dan tak bisa mendengar. Pengantin laki-lakinya Rochmad, warga Jalan Widuri II, RT 12 RW 5, Bangetayu Kulon, Semarang. Sedangkan, mempelai putri, Sarminah, warga Dukuh Pandansari RT 3 RW 4, Desa Bedono, Kecamatan Sayung. Saat datang ke KUA, keduanya diantarkan oleh pihak keluarga dan tetangga masing-masing. Sampai di KUA, Sarminah langsung dipertemukan dengan Rochmad. Keduanya diantar menuju ruang akad nikah.
Sekitar pukul 09.00, acara ijab kabul dimulai. Pernikahan dipimpin Lutfi Hanif, petugas KUA setempat. Sebelum ijab kabul dilakukan, Rochmad diberi kesempatan untuk memberikan seperangkat alat salat sebagai mahar pernikahan. Antara lain berisi mukena, sajadah, tasbih, Alquran dan perlengkapan lainnya. Uniknya, ijab kabul ditandai dengan acungan kedua jari jempol Rochmad. Yang bersangkutan pun senyum mesra tanda memahami proses ijab kabul tersebut. Usai ijab dengan isyarat itu, Rochmad dan Sarminah pun menjadi pasangan sah.
Petugas KUA Sayung, Lutfi Hanif SHI, mengatakan, kedua mempelai sebelumnya masih lajang. ”Ijab kabul tidak disyaratkan memakai bahasa lisan atau bahasa Arab. Apalagi, kedua mempelai ada kendala yakni sebagai tunarungu dan wicara. Yang penting, kedua mempelai memahami proses ijab tersebut meski dengan bahasa isyarat,” katanya.
H Mansur, Petugas Pembantu Pencatat Nikah (P3N) Desa Bedono mengungkapkan, dengan menikahnya pasangan Rochmad dan Sarminah tersebut, maka keduanya sudah sah sebagai suami istri. ”Alhamdulillah ijab kabul tidak ada kendala meski keduanya sama-sama tunawicara dan tunarungu,” ucapnya penuh syukur.
Informasi yang diperoleh Radar Semarang, pasangan ini mulai saling kenal dua bulan lalu. Perkenalannya di warung nasi kucing milik Juriyah, kakak kandung Sarminah. Kebetulan Rochmad kerap makan di warung nasi kucing tersebut.
”Mbak Sarminah memang warga Desa Bedono, tapi yang bersangkutan sudah lama ikut bertempat tinggal di rumah kakaknya di Bangetayu Kulon. Sedangkan Pak Rochmad tinggal di rumah almarhumah Sugiarti, warga Jalan Widuri RT 4 RW 5, Bangetayu Kulon,” jelas Kurnia Arif, warga Bangetayu Kulon kepada Radar Semarang.
Dijelaskan, sejak kecil Rochmad tidak diketahui keluarganya. Dia tinggal di rumah almarhumah Sugiarti sejak 25 tahun terakhir.  Warga, kata Kurnia, merasa senang karena Rochmad sudah punya jodoh. ”Pak Rochmad ketemu jodohnya saat makan di warung nasi kucing. Di situ, ia diperkenalkan dengan Mbak Sarminah. Saat dikenalkan, wajah Pak Rochmad  hanya tampak senyam-senyum,” ceritanya.
Karena mengalami keterbatasan sebagai tunawicara dan tunarungu, Rochmad hanya memberikan isyarat persetujuan bila berjodoh dengan Sarminah. ”Waktu itu, kita menunjukkan jari jempol dan jari kelingking (jentik). Ternyata Pak Rochmad pilih yang jari jempol. Itu sebagai tanda setuju untuk dinikahkan. Dengan bahasa isyarat dia suka sama Mbak Sarminah, dan ingin segera menikah serta memasangkan cincin di jari manis kekasihnya itu,” jelas Kurnia.
Karena setuju untuk dinikahkan itulah, pihak Rochmad dengan didampingi keluarga yang ditempati menanyakan ke pihak keluarga perempuan untuk lamaran. Tak diduga, lamaran Rochmad langsung diterima oleh mempelai wanita. ”Ya, prosesnya sekitar dua bulanan sejak pertemuan pertama kedua mempelai,” katanya. 
Menurut Kurnia, sehari-hari Rochmad bekerja serabutan. ”Kalau ada orang yang membutuhkan tenaganya dan Pak Rochmad mau, biasanya dia akan bilang oke dengan menunjukkan jari jempolnya. Jika tidak mau, ya geleng-geleng kepala,” jelasnya. 
Sukri, adik kandung Sarminah menambahkan, kakaknya tersebut memang lama bertempat tinggal di rumah Juriyah, kakaknya yang tinggal di Bangetayu Kulon. Kadang yang bersangkutan membantu pekerjaan mencuci, momong anak, serta membantu berjualan nasi kucing. ”Mbak Sarminah mau dinikahkan asalkan saat mau ijab kabul di KUA dirinya dirias,” katanya.
Karena itu, saat prosesi ijab kabul kemarin, Sarminah pun dengan senang hati menjalani prosesi menikah tersebut dengan kain kebaya dan riasan pengantin. (*/aro/ce1)