Apa Makna Kata Mawlana pada Ayat Terakhir Surat al-Baqarah?

140

Pertanyaan:

Assalamu’alaikum Wr Wb Bapak Kiai Ahmad Izzudin di Radar Semarang yang saya hormati dan dirahmati Allah SWT. Saya ingin menanyakan apa arti kata mawlana dalam ayat terakhir surah al-Baqarah? Sebab, dalam beberapa buku saya temukan juga salawat kepada Nabi dalam redaksi ”Sayyidina wa mawlana Muhammad”. Kemudian apa perbedaan arti mawlana dalam ayat tersebut? Demikian pertanyaan saya Bapak Kiai, mohon penjelasan dan jawaban Bapak Kiai, terima kasih.
Wassalamu’alaikum Wr Wb
Zainuri, Kendal (085290547xxx)

Jawaban:

Wa’alaikum salam Wr Wb Bapak Zainuri di Kendal yang saya hormati dan juga dirahmati Allah SWT. Sebelumnya saya ucapkan terima kasih atas pertanyaan Bapak. Kata mawlana tersusun dari kata mawla dan na. Sementara itu kata mawla terambil dari akar kata waliya yang dalam kamus Alquran, Al- Mufradat fi Gharib al-Qur’an, dijelaskan bahwa makna dasarnya adalah ”adanya dua hal atau pihak atau lebih yang tidak sesuatu lainnya yang berada di antaranya. Karena itu, maka dasar kata tersebut berkisar pada arti ”dekat” dari segi tempat, kedudukan, agama, persahabatan maupun kepercayaan, pertolongan atau keturunan. Kata na yang digandengkan dengan mawla berarti kita atau kami.
Dari makna tersebut, lahirlah berbagai arti dari kata mawla, yang antara lain bermakna ”penolong” seperti disebutkan dalam Alquran (QS. Al-Baqarah [2]: 286) di atas. Tentunya, pertolongan ini datang karena kedekatan kita terhadap Allah dan kedekatan-Nya kepada kita. Di samping itu, pada ayat lain juga disebutkan, ”tetapi Allah adalah penolong (mawla)-mu, dan Dialah sebaik-baik penolong (QS. Ali Imran [3]: 150)”.
Semua penolong bisa dinamai mawla. Hal ini sebagaimana mahasiswa-mahasiswa di Universitas Al-Azhar sering kali memanggil guru besar dengan sebutan mawlana, karena mereka sadar para guru besar membantu mereka melalui pendidikan. Tentu saja, pertolongan mereka tidak dapat disamakan dengan pertolongan Allah. Memang, tidak jarang ada kata yang sama, tetapi digunakan untuk Allah dan makhluk, walaupun tentu kapasitas dan subtansinya berbeda. Itulah sebabnya dalam Alquran dinyatakan: yang demikian itu karena sesungguhnya Allah adalah pelindung atau penolong (mawla) orang-orang yang beriman, dan karena sesungguhnya orang-orang kafir itu tidak mempunyai pelindung atau penolong (QS. Mahmudah [47]: 11). Dalam Kamus-kamus bahasa kata mawla diartikan dalam berbagai arti, bahkan sering kali dalam arti yang bertolak belakang. Dalam kamus al-Munjid, misalnya, kata mawla diartikan sebagai ”tuan, hamba sahaya, yang memiliki atau yang dimiliki, yang memerdekakan hamba sahaya dan hamba yang dimerdekakan, junjungan, yang dicintai, tetangga, tamu, sekutu, anak, paman, ipar, dan sebagainya yang semua bermuara pada arti kata dasar itu, yakni kedekatan. Kita dapat memahami arti kata mawlana dalam salawat Nabi itu, antara lain, dalam pengertian ”junjungan atau yang dicintai”, dan bahkan boleh juga dalam arti ”penolong”, yang diharapkan dapat menolong kita dengan syafaat beliau di hari akhirat nanti. Demikian jawaban dan penjelasan singkat dari saya, semoga bermanfaat dan barakah. Amin. Wallahu ‘alam bishshowab. (*/ton/ce1)