Terdakwa Yakin Tak Bersalah

66

Dugaan Eksploitasi Anak Kandung
 
KRAPYAK – Persidangan kasus dugaan eksploitasi anak kandung dengan terdakwa Karminah, 38, warga Villa Aster II, Srondol Kulon, Banyumanik kembali digulirkan di Pengadilan Negeri (PN) Semarang, Rabu (21/5). Persidangan yang hampir memasuki tahap akhir tersebut beragendakan pemeriksaan terdakwa.
Dalam keterangannya, terdakwa menjelaskan bahwa setelah ia bercerai dengan mantan suaminya Vincent Cantaert, 59, pada 10 Mei 2007. Karminah mendapat hak asuh kedua anaknya Co, 12; dan Ca, 10. ”Sedangkan sang ayah hanya mendapat jatah mengunjungi anaknya dua hari dalam seminggu,” ungkapnya.
Ditambahkan, sebelum perceraian juga telah disetujui beberapa kesepakatan antara kedua pihak. Salah satunya adalah kedua anak mereka mendapat saham sebesar 12,5 persen dari perusahaan yang dimiliki sang ayah beserta keuntungan yang didapatkan. ”Selain itu, saksi pelapor diwajibkan membayar kredit rumah senilai Rp 400 juta yang kami tempati. Namun semua itu belum dipenuhi oleh saksi pelapor,” klaimnya.
Karminah menegaskan, uang yang dipakai untuk membeli rumah merupakan uang hasil penjualan lapak-lapak milik ibunya. Selain itu, ia juga menggunakan uang penghasilannya yang bekerja menjadi asisten dosen. ”Sedangkan untuk kekurangannya, saya pinjam dari saksi pelapor dengan catatan hak nafkah saya dipotong,” ungkapnya.
Disinggung mengenai alasan terdakwa membuatkan akun Facebook bagi kedua anaknya yang kemudian digunakan untuk mengancam saksi pelapor dengan cara melaporkan kepada atasannya, terdakwa mengaku itu sudah menjadi kebutuhan anak zaman sekarang. Meskipun secara aturan anak di bawah umur tidak diperbolehkan memilikinya. ”Yang menulis pesan tersebut adalah anak saya setelah mendengar keluhan saya terhadap ibu. Saya tidak bisa membaca isi dalam inbox (kotak pesan) karena tidak mengetahui password-nya,” akunya.
Ditemui usai persidangan, saksi pelapor didampingi penasihat hukumnya Ira Widiastuti mengungkapkan bahwa keterangan yang diberikan terdakwa berbanding terbalik dengan hal sebenarnya. Menurutnya, saksi pelapor telah secara rutin memberi nafkah kepada terdakwa setiap bulannya. Selain itu, ia juga rela mengeluarkan uang demi untuk bertemu kedua anaknya sebagaimana disyaratkan terdakwa. ”Kami memiliki bukti hitam di atas putih yang menyatakan bahwa semua kewajiban saksi pelapor telah dipenuhi. Hal ini berarti terdakwa telah memberi keterangan bohong yang justru dapat memberatkannya,” ungkapnya.
Ditambahkan, terkait penulisan pesan via Facebook yang dilakukan sang anak kepada komisaris PT Mama Green Gerhard Bessler, atasan saksi pelapor yang berisi tuntutan pemberian keuntungan saham dan ancaman memublikasikan kepada media, saksi pelapor yakin itu adalah perbuatan terdakwa. Hal itu ditegaskan dengan alasan tidak mungkin anak sekecil itu mengetahui saham begitu jelasnya. (fai/ton/ce1)

Tinggalkan Komentar: