Razia IMB Diwarnai Ketegangan

207

SALATIGA — Razia Izin Mendirikan Bangunan (IMB) dan izin gangguan (HO) yang dilakukan oleh tim gabungan, kemarin, diwarnai ketegangan.
Hal itu terjadi saat anggota tim yang didampingi belasan anggota satpol PP, dilarang masuk ke dalam halaman sebuah rumah yang dicurigai produsen pakaian, di Jalan Imam Bonjol.
Tim yang dipimpin oleh Plt Kepala Seksi Penegakan Perda (Kasi Gakda) Satpol PP Andi Priyantoro bersitegang dengan satpam yang menjaga rumah tersebut.
Sejumlah petugas bersikukuh hendak melihat langsung kegiatan di dalam rumah tersebut. Satu sisi, satpam enggan membuka pintu, dengan alasan belum mendapat izin dari pemilik rumah.
”Kami awalnya hanya ingin memberikan surat panggilan, terkait pembangunan gudang yang berada di belakang rumah itu. Namun, dengan kondisi yang tertutup, membuat kami curiga dengan aktivitas di dalamnya,” ucap Giri, seorang anggota satpol. Sejumlah anggota satpol juga tampak kesal dengan sikap satpam rumah.
Setelah berargumen beberapa lama, datang seorang pekerja perempuan. Ia membuka gerbang pertama. Pegawai itu pun tidak bisa memberikan akses kepada petugas untuk masuk ke bagian dalam rumah yang berukuran ratusan meter itu. Hingga akhirnya, disepakati empat perwakilan petugas yang masuk.
”Kami patut curiga dengan aktivitas di sini, karena laporannya hanya gudang konveksi. Tapi kami melihat adanya gulungan kain dan berbagai merek konveksi yang masih belum terpasang. Jadi, tidak tertutup kemungkinan ada kegiatan produksi di situ,” ucap salah satu petugas yang masuk ke dalam rumah.
Wartawan Radar Semarang yang ikut masuk, juga melihat kekecewaan di wajah para petugas setelah masuk. Sebab, sesampai di dalam, semua sudah dalam kondisi terkunci. Akses ke tempat bekerja semuanya telah dikunci, sehingga petugas tidak bisa masuk.
Dani, karyawan yang mendampingi petugas beralasan, semua karyawan sedang beristirahat. Ia menuturkan, rumah tersebut adalah gudang. Mereka mendapatkan barang dari Bandung dalam bentuk setengah jadi.
Namun, petugas yang berjaga di depan rumah, tidak menjumpai adanya karyawan yang keluar. Padahal, melihat mesin absensi, jumlah pegawai di rumah itu, lebih dari 30-an orang.
”Ya, kita berikan surat panggilan kepada pemiliknya untuk membawa perizinan yang telah diurus,” terang Andi.
Sementara itu, bangunan awal di belakang rumah yang dicek petugas, menurut Dani, milik orang tua pemilik gudang konveksi.
Petugas lantas memberikan surat panggilan kepada pemilik gudang itu. Jika diabaikan hingga surat ketiga, akan dilakukan penghentian dan pembongkaran paksa pembangunan. (sas/isk/ce1)