Disdik Tegur Kepala Sekolah

190

Yang Siswanya Terlibat Pesta Miras dan Tawuran
 
KENDAL — Kepala Dinas Pendidikan Kendal, Muryono berjanji memanggil sejumlah kepala sekolah di Kendal. Hal itu dilakukan, terkait adanya sejumlah siswa yang terkena razia konvoi brutal, pesta miras, dan tawuran saat pengumuman kelulusan ujian nasional (unas), Selasa (20/5) lalu.
Muryono mengklaim, sebagai kepala Dinas Pendidikan, pihaknya telah memberikan imbauan kepada seluruh sekolah, agar pada saat kelulusan, siswa tidak melakukan konvoi.
”Kami sudah arahkan agar siswa memakai busana muslim dan tidak melakukan kegiatan anarkistis atau aksi brutal. Maka itu, kami kaget mendengar ada siswa yang melakukan konvoi, pesta miras, bahkan terlibat tawuran,” tuturnya, Rabu (21/5) kemarin.
Kepala sekolah yang akan dipanggil, antara lain, Kasek SMA Bhineka Kendal, SMA PGRI 01 Kendal, SMK N 2 Kendal, SMK Bina Utama, SMA NU 5 Kendal, MAN Kendal. Juga beberapa kasek lain, yang siswanya terjaring razia polisi. ”Akan kami panggil dan akan kami berikan sanksi pembinaan, agar ke depan bisa memperbaiki.”
Terpisah, pihak SMA Bhinneka juga akan memanggil para siswa yang terkena razia saat tawuran dan pesta miras.
Pemanggilan siswa, lantaran dari hasil pemeriksaan polisi, banyak ditemukan siswa baru kelas I dan II, ikut melakukan pesta kelulusan. Selain itu, perbuatan sejumlah siswa yang menenggak miras dan terlibat tawuran, telah melanggar aturan sekolah.
”Kami juga akan memanggil para orang tua. Tujuannya, agar bisa bersama-sama memberikan pembinaan kepada anak. Jadi, beban pembinaan bukan hanya beban para guru atau sekolah saja,” kata Kepala SMA Bhinneka Windu Harsoyo kepada Radar Semarang.
Windu berjanji akan mendatangi Polres Kendal untuk meminta data siswa yang terkena razia konvoi, pesta miras, maupun terlibat tawuran. Dengan data tersebut, pihaknya akan memanggil siapa saja siswa yang terlibat.  
Windu mengklaim, pihaknya sudah melakukan antisipasi agar siswa tak melakukan konvoi atau tindakan tidak bermoral pada saat pengumuman kelulusan.
”Kami sudah meliburkan siswa, karena yang mengambil pengumuman adalah orang tua, bukan siswa.”
Hal senada disampaikan oleh Kepala SMK N 2 Kendal, Mariyono. Dia menambahkan, peristiwa tersebut menjadi pelajaran berharga agar ke depan tidak lagi terulang.
“Kami akan memanggil siswa dan orang tua siswa. Selain itu, untuk siswa kelas I dan II, akan kami beri pembinaan intens agar ke depan tidak melakukan perbuatan yang sama.” (bud/isk/ce1)