Status Merapi Dievaluasi

69

MUNGKID– Aktivitas Gunung Merapi di perbatasan Jawa Tengah dan Jogjakarta cenderung mengalami penurunan dalam beberapa hari terakhir. Untuk itu,  Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Jogjakarta akan segera melakukan evaluasi status waspada yang ditetapkan saat ini.     
Kepala BPPTKG Subandrio  juga menambahkan, aktivitas vulkanis Gunung Merapi cenderung menurun beberapa hari terakhir. Aktivitas kegempaan juga relatif menurun, hanya gempa tektonik lokal dan multiphase yang masih terjadi.  Sedangkan, gempa-gempa yang lain tidak ada.       
Menurut Subandrio, meski cenderung menurun, status Merapi masih di level waspada. “Dentuman-dentuman dan suara gemuruh sudah tidak terdengar dari puncak Merapi beberapa hari terakhir,” katanya  usai memberikan sosialisasi kondisi Gunung Merapi terkini pada musyawarah pimpinan daerah (Muspida) Kabupaten Magelang di rumah dinas Bupati Magelang, kemarin.       
Dengan penurunan aktivitas tersebut, pihak BPPTKG belum dapat menyimpulkan apakah level gunung yang membatasi wilayah Provinsi Jawa Tengah dengan Yogyakarta itu akan diturunkan menjadi aktif normal atau tetap pada status waspada level II.   “Sampai hari ini masih status waspada. Secepatnya kita akan evaluasi itu,” ucapnya.     
Menurut dia, hingga saat ini tidak ada indikasi pergerakan magma yang naik ke permukaan pasca erupsi besar tahun 2010 lalu. Dia menambahkan letusan minor yang kerap terjadi beberapa waktu lalu di Merapi bukan dipicu karena aktivitas magmatik Merapi. Namun, letusan minor itu hanya aktivitas di permukaan saja. Sedangkan dibawah permukaan tersebut terdapat material-material padat seperti abu vulkanik dan material lama.     
“Jadi di bawah permukaan itu bukan material magma baru, meskipun pijar. Proses keluarnya material lama yang pijar dari dalam Merapi kejadiannya hanya sebentar, maksimal 20 menit saja. Sedangkan keluarnya material magma baru prosesnya akan berlanjut sampai terjadinya awan panas dan kubah lava baru,” papar dia. 
Hanya saja dia mengatakan adanya  kandungan gas beracun saat letusan-letusan kecil dari Gunung Merapi cukup tinggi. Hal itu dikarenakan kadar karbondioksida (Co2)  dan karbon (C) yang terkandung dalam embusan gas saat letupan cukup tinggi.     
“Namun demikian, masyarakat di sekitar Merapi tidak perlu takut dan khawatir, karena begitu dilepaskan ke atmosfer gas itu menjadi netral.  Gas itu juga lebih ringan dari udara biasa sehingga bergeraknya cenderung ke atas,” kata Subandrio. 
Menurut Subandrio, gas beracun itu tidak akan terhirup oleh warga di lereng Merapi karena kondisi pemukiman yang berada jauh di bawah puncak Merapi. Menurutnya, pusat embusan gas beracun di Merapi berada pada ketinggian sekitar 2900 meter, sementara pemukiman penduduk paling atas berada di ketinggian di bawah 1000 meter.    Bupati Magelang, Zaenal Arifin juga memberikan arahan untuk menyiapkan beberapa sektor meskipun Merapi masih dalam status waspada. Dia mengatakan, penanganan bencana menjadi tugas Pemkab sesuai dengan amanat undang-undang (UU).    “Kita berharap tidak ada bencana. Namun, saat ini kita sudah mulai menyiapkan berbagai sektor dengan dipimpin BPBD. Kami meminta, semua sektor harus selalu mengupdate data sumber daya, sarana, dan prasarana seluruh SKPD,” jelasnya.
Update data itu diperlukan agar jika memang terjadi bencana, semua sudah siap dan tidak tumpang tindih dalam penanganan risiko bencana. Pemkab juga akan terus menyosialisasikan kondisi Merapi dengan sumber dari BPPTKG. (vie/lis)