Soal Unas Lebih Sulit, Ingin Kuliah di FK UGM

199

Kresna Aditya Raharja, Peraih Nilai Unas SMA Tertinggi di Kota Semarang

Kresna Aditya Raharja menjadi peraih nilai ujian nasional (Unas) SMA bidang IPA tertinggi di Kota Semarang. Siswa SMA Karangturi Semarang ini juga menempati ranking 2 di tingkat Jateng, dan peringkat 16 besar nasional.

EKO WAHYU BUDIYANTO

KRESNA Aditya Raharja tampak berbinar saat diberitahu pihak sekolah jika dirinya menjadi peraih nilai unas tertinggi di Kota Semarang. Siswa kelahiran Semarang, 9 Juli 1996 ini mengoleksi nilai unas 56,8. Di tingkat Jateng, siswa kelas XII A1 SMA Karangturi Semarang ini menduduki peringkat kedua di bawah Fenita Adina Santoso, siswi SMA Negeri 1 Pekalongan dengan nilai unas 57,35.
Saat ditemui Radar Semarang di sekolahnya, putra pasangan Irawan Raharjo dan Ambarwati ini mengaku tak menyangka bakal meraih peringkat pertama nilai unas SMA di Kota Semarang. Sebab, saat unas lalu, siswa yang bercita-cita meneruskan kuliah di Fakultas Kedokteran Universitas Gajah Mada (FK-UGM) Jogjakarta ini mengakui jika soal yang diujikan lebih sulit ketimbang soal-soal try out yang pernah dikerjakan sebelumnya.
”Soalnya lebih susah ketimbang try out, karena ada beberapa butir soal yang memang digunakan untuk seleksi perguruan tinggi,” kata Kresna kepada Radar Semarang, Selasa (20/5).
Ia mengaku, saat mengerjakan soal unas, dirinya lebih mendahulukan soal penalaran daripada butir soal yang lain. ”Saya lebih suka mengerjakan soal penalaran, dalam hal ini adalah pelajaran sains, matematika, kimia, fisika, dan biologi,” ujarnya.
Sebelum unas, Kresna mengaku sempat mengikuti try out yang diadakan oleh sekolah sebanyak satu kali, dan dilakukan oleh Dinas Pendidikan sebanyak dua kali.
Dalam sistem belajar, remaja yang mengaku anak rumahan ini memiliki sistem belajar yang tidak sama dengan teman-teman sebayanya. ”Setiap pulang sekolah pukul 15.00, saya belajar lagi sampai pukul 16.00. Setelah itu, istirahat sampai pukul 18.00, dan lanjut belajar lagi sampai pukul 21.00,” katanya.
Rutinitas belajar seperti itu juga diakui oleh Irawan, ayah Kresna. ”Ia lakukan sejak masih duduk di bangku SMP. Tidak heran, jika dalam 4 semester berturut-turut ia meraih ranking 1 paralel di SMA Karangturi,” ujar Irawan.
Ia mengaku semangat belajarnya setiap hari semakin bertambah, namun hal itu tidak diimbangi dengan support orang tua. Ia mengaku, keinginannya dan semangat balajar diperoleh dari dirinya sendiri. ”Biasanya kalau sedang semangat belajar, eh orang tua malah kendor, malah kadang-kadang bersikap santai dengan kata lain, belajar boleh, tidak juga tidak apa-apa,” katanya sambil tersenyum.
Prestasi akademik siswa yang gemar membaca ini juga tidak perlu diragukan lagi. Ia pernah mendapatkan medali perak saat berlaga di olimpiade kimia tingkat nasional pada 2013. Kesukaannya dengan dunia sains berawal dari banyaknya kejadian di alam yang perlu untuk dikaji. ”Banyak misteri yang ada di alam, dari situ banyak celah-celah segala sesuatu untuk didalami dan dikaji,” ujar Kresna.
Kresna sendiri mengaku kurang tertarik dengan ilmu-ilmu sosial. ”Saya kurang begitu respons sama dunia perpolitikan, bermasyarakat, dan kehidupan sosial lainnya,” katanya.
Kepala SMA Karangturi Shinta Dewi Gondomartono mengatakan, pihaknya selalu memfokuskan untuk mengembangkan pendidikan karakter dalam diri anak. Selain itu, ia mengaku tidak terlalu membebani siswanya agar selalu mendapatkan nilai baik dalam unas.
”Saya sering mengingatkan ataupun memotivasi dan menggali karakter masing-masing anak, antara lain tidak membebani mereka (siswa, Red) dengan momok unas,” ujarnya.
Shinta juga menginginkan keberadaan unas hanya sebagai sistem pemetaan untuk mengetahui tingkat kemampuan siswa di masing-masing daerah. Ia beranggapan bahwa masing-masing daerah memiliki potensi dan fasilitas yang berbeda. ”Bukan membuat unas menjadi momok yang sangat ditakuti oleh siswa,” katanya.
Ia juga selalu mengingatkan kepada siswanya tentang pentingnya hidup bersosial dan membantu sesama. (*/aro/ce1)

Tinggalkan Komentar: