DEMAK-Ratusan gus atau anak kiai dari berbagai pondok pesantren (ponpes) di wilayah Demak, kemarin, digembleng menjadi orang kaya. Caranya, mereka dilatih berwirausaha mandiri. Para entrepreneur atau wirausahawan sukses, dihadirkan sebagai pembicara dalam kegiatan yang dikemas workshop tersebut.
Ketua GP Ansor Demak, Abdurrahman Kasdi mengatakan, melalui acara itu, santri maupun kiai muda diharapkan menjadi kiai yang memiliki jiwa wirausaha. Menurut Kasdi, ada istilah Gusjigang. Artinya, mereka tidak semata bagus fisik dan hatinya serta pintar ngaji  saja. Namun, para kiai muda ini juga sukses berdagang.
“Dengan demikian, akan lahir sosok kiai yang mandiri dan tidak tergantung orang lain. Yaitu, kiai yang sukses dunia akhirat,” katanya didampingi Fathan, panitia workshop. Afiv Taufiq dari Bagian Kesra Pemkab Demak menambahkan, ada 225 orang kiai muda yang dilatih berwirausaha mandiri.
“Selama ini kan mereka fokus mengaji saja. Namun, kali ini mereka dilatih agar mampu berwirausaha,” jelasnya. Acara ini dihadiri Bupati Dachirin, Kepala Disperindagkop Eko Pringgolaksito dan Kabag Kesra Jauhar Arifin.
Salah satu pembicaranya adalah Turaechan. Pria asli Demak yang kini memiliki banyak usaha garmen sekaligus pemain sinetron FTV ini menceritakan bisnis yang dirintisnya selama ini.
Dia menuturkan, untuk menjadi wirausahawan suskes, harus memiliki kemampuan, pengetahuan, kemauan dan semangat. Selain itu, kata dia, harus sabar menghadapi rintangan dan tantangan, rajin berikhtiar, serta berdoa. 
“Saya dulu santri di Ponpes Al Islah ini. Saya hanya lulusan Madrasah Aliyah. Tapi, tidak menyangka bisa punya usaha garmen dan menjadi pemain sinetron. Saya dulu mengawali usaha dengan menjadi tukang ngetok sendok keliling dari kota daerah satu ke daerah lainnya. Itu saya lakukan sekitar 2 tahun. Saya kerap tidur di musala dan masjid yang saya singgahi,” katanya.
Turaechan mengatakan, karena lelah dengan usahanya, ia akhirnya sampai di Jogja. Berbekal uang Rp 500 ribu, ia mengontrak sebuah toko kecil selama 2 bulan. Ia membuka usaha konveksi border  dan lambat laun berkembang sampai sekarang. (hib/isk)