Angka Ketidaklulusan SMA/MA Naik 59%

Akibat Bobot Soal
Unas Meningkat

SEKAYU — Meningkatnya jumlah siswa SMA/MA di Jateng yang tidak lulus ujian nasional (unas) tahun ini dibanding tahun lalu lebih disebabkan oleh naiknya kualitas soal yang diujikan. Tercatat, sebanyak 132 siswa SMA/MA di Jateng tak lulus unas. Rinciannya, 90 siswa SMA dan 42 siswa MA. Sedangkan unas 2013, jumlah siswa SMA/MA di Jateng yang tidak lulus hanya 83 siswa. Itu artinya terjadi kenaikan 59 persen. Sebaliknya, untuk siswa SMK yang tidak lulus unas tahun ini menurun drastis, dari 373 siswa pada 2013 menjadi 58 siswa pada tahun ini atau turun 84,45 persen.
Ketua Panitia Penyelenggara Unas Provinsi Jateng Tri Handoyo saat dikonfirmasi soal meningkatnya angka ketidaklulusan siswa SMA/MA di Jateng hanya menjawab singkat. Ia mengatakan, jika siswa yang tidak lulus tersebut lantaran perolehan nilainya tidak memenuhi standar kelulusan. ”Dalam hal ini dikarenakan ada peningkatan kualitas soal unas yang lalu,” kata Tri Handoyo kepada Radar Semarang, Selasa (20/5).
Seperti diketahui, kesulitan dalam soal unas tahun ini meningkat menjadi 20 persen dari yang tadinya tingkat kesulitannya hanya 10 persen. Hal ini sempat dikeluhkan peserta unas. Tak heran jika angka ketidaklulusan siswa pun meningkat.
Meningkatnya angka ketidaklulusan siswa SMA/MA tersebut, menurut Kepala SMA Kesatrian 2 Semarang Drs Supriyono PH, lantaran beberapa butir soal memiliki tingkat kesulitan berbeda. ”Soal lebih susah. Bobot soal meningkat menjadi 20 persen, sangat menyulitkan siswa,” kata Supriyono.
Untuk itu, jika terjadi penurunan, lanjut Supriyono, itu suatu yang wajar. Namun ia bersyukur karena seluruh siswa kelas XII SMA Kesatrian yang berjumlah 280 anak lulus 100 persen. ”Walau lulus 100 persen, tapi dibanding tahun lalu, nilainya turun drastis,” ujarnya.
Seperti diberitakan Jawa Pos kemarin (20/5), muncul fenomena menarik dalam pengumuman kelulusan ujian nasional (Unas) 2014 jenjang SMA sederajat. Di beberapa provinsi jumlah ketidaklulusan meningkat drastis bila dibandingkan dengan tahun lalu. Kadar kesulitan soal ujian menjadi salah satu penyebabnya.
Dalam pengumuman yang dilansir Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Jateng menduduki peringkat kedua kenaikan angka ketidaklulusan tertinggi setelah Jatim. Di Jatim ada 196 siswa SMA/MA dan 61 siswa SMK yang dinyatakan tidak lulus ujian. Sebaliknya, pada unas 2013 siswa SMA/MA yang tidak lulus hanya 56 anak dan 10 anak untuk kelompok SMK.
Sedangkan di Jateng, tercatat 132 siswa SMA/MA yang tidak lulus tahun ini. Padahal pada unas 2013, siswa SMA/MA yang tidak lulus hanya 83 siswa. Sedangkan untuk siswa SMK mengalami penurunan angka ketidaklulusan dari 373 siswa pada 2013 menjadi 58 siswa pada unas tahun ini. Peningkatan angka ketidaklulusan lainnya juga terjadi di Jawa Barat, dan DKI Jakarta serta Kalimantan Barat.
14 Siswa Tak Lulus
Sementara itu, Dinas Pendidikan Kota Semarang menyebutkan sebanyak 14 siswa SMA dan sederajat di wilayah ini yang dinyatakan tidak lulus unas 2014. ”Dari total peserta unas SMA dan sederajat di Kota Semarang tahun ini sebanyak 22.544 siswa, ada 14 siswa yang tidak lulus,” kata Kepala Dinas Pendidikan Kota Semarang, Bunyamin di Semarang, Selasa (20/5).
Rinciannya, 6 siswa SMK dari total peserta didik sebanyak 11.367 siswa, 6 siswa SMA bidang IPS dari total 4.663 siswa, serta 2 siswa MA program Keagamaan dari total 98 siswa. Khusus untuk siswa SMA-MA program IPA lulus 100 persen, dengan total peserta didik 6.235 siswa, serta SMA-MA program Bahasa dengan jumlah 200 siswa.
”Persentase kelulusan unas SMA dan sederajat pada tahun ini mencapai 99,9 persen. Pengumuman kelulusan siswa di sekolah dilakukan secara serentak pada Selasa (20/5) ini (kemarin) pukul 15.00,” katanya.
Bagi siswa yang tidak lulus tahun ini, kata dia, tidak perlu berkecil hati karena berkesempatan mengulang pada pelaksanaan unas tahun berikutnya, atau bisa mengikuti ujian kejar paket C.
Saat pengumuman kelulusan kemarin, pihaknya menginstruksikan agar seluruh sekolah tidak mengundang siswa ke sekolah untuk mengantisipasi adanya euforia perayaan kelulusan yang dilakukan siswa. ”Pengumuman kelulusan sudah kami instruksikan melalui tiga cara, yakni menampilkan di website sekolah, melalui surat atau pos, serta pertemuan dengan mengundang kalangan orang tua siswa,” ujarnya.
Kepala SMA Negeri 5 Semarang Titi Priyatiningsih menyebutkan, kelulusan siswa di sekolahnya mencapai 100 persen, dari total peserta didik sebanyak 357 siswa (IPA) dan 47 siswa (IPS).
”Kelulusan siswa kami umumkan melalui website sekolah yang diunggah pada pukul 15.00. Ini sesuai instruksi Dinas Pendidikan Kota Semarang. Untuk siswa, tidak kami undang ke sekolah,” katanya.
Untuk mengantisipasi euforia perayaan kelulusan yang dilakukan siswa, kata Titi, pihaknya mengimbau melalui layanan SMS Gateway secara berantai ke seluruh siswa agar tidak datang ke sekolah. (hid/mg1/aro/ce1)

BAGIKAN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here