Petambak Resah, Mata Pencaharian Hilang

91

1.000 Hektare Bakal Diterjang KIK
 
KENDAL—Petani tambak pesisir pantai utara di Kaliwungu Kendal mengeluhkan rencana Pemkab Kendal untuk membangun Kawasan Industri Kendal (KIK). Pasalnya, proyek tersebut akan menghilangkan mata pencaharian para petambak.
Salah seorang petani tambak, Ahmatur, 52, mengatakan sebagian para petambak memang sudah menjual lahannya kepada PT Jababeka untuk lahan KIK. “Satu sisi para pemilik tambak, memang diuntungkan karena tanah dibeli dengan harga tinggi,” ujarnya, Senin (19/5) kemarin.
Namun keuntungan warga hanyalah sementara, karena tidak ada lagi tambak yang bisa digarap. Sebab semua lahan akan didirikan dan diurug untuk kawasan industri. Sementara petambak yang tidak menjual lahannya, harus kehilangan mata pencahariannya.
“Jadi, mau tidak mau, para pemilik tambak harus menjual lahannya kepada PT Jababeka. Sebab, setelah didirikan kawasan industri, lahan tak bisa lagi produktif untuk mengolah bandeng maupun udang. Pada akhirnya, petambak harus merugi karena lahannya tidak bisa digunakan lagi,” tandasnya.
Seharusnya, katanya, sejak sekarang Pemkab Kendal harus membuat lahan tambak baru. Sehingga warga tidak kehilangan mata pencahariannya. Ini sungguh ironis, karena selama ini Kendal terkenal sebagai penghasil terbesar hasil tambak bandeng. “Tambak disini (Kaliwungu, Red) merupakan sentra bandeng dan udang faname yang menjadi unggulan Kabupaten Kendal,” tambahnya.
Menanggapi hal tersebut, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKK) Kendal, Tjipto Wahjono, membenarkan jika nantinya untuk pembangunan KIK lebih kurang akan memakan 1.000 hektare lahan tambak. Tambak yang akan tergeser menjadi kawasan industri adalah Desa Wonorejo dan Mororejo. Padahal, produksi tambak bandeng di dua desa tersebut mencapai 1-1,5 ton perhekatre setiap kali panen. “Memang sebagian masih produktif, tapi 50 persen di antaranya memang sudah tidak produktif,” katanya.
Tjipto mengatakan, produksi bandeng di seluruh Kendal sendiri mencapai 5 juta ton lebih dengan nomimal Rp 61,5 miliar. Sedangkan udang faname mencapai 2 juta ton dengan nominal Rp 166 miliar. “Jika nanti tambak di Kaliwungu berubah menjadi industri, dinas akan mengupayakan munculnya tambak-tambak baru di Kendal bagian barat,” tambahnya.
Pihaknya juga berjanji akan memberikan pelatihan kepada petambak agar bisa mengelola tambak dengan teknologi atau cara modern. Sebab kebanyakan petambak di Kendal masih mengelolanya secara tradisional. Sedangkan pengelolaan secara modern, dapat menghasilkan bandeng dua kali lipat, yakni 2-3 ton perhektar setiap kali panen. “Dengan cara tradisional dan lahan yang tidak produktif, petani tambak hanya bisa menghasikan 1 ton saja,” tandasnya.
Dengan cara pengelolaan tambak secara modern, pihaknya dapat mengoptimalkan lahan tambak yang berkurang akibat pengurangan tambak akibat abrasi maupun pembangunan industri. (bud/ida)

Tinggalkan Komentar: