KRAPYAK – Terdakwa kasus dugaan pemalsuan air zamzam Thalib bin Saeb bin Thalib, 58, akhirnya divonis Pengadilan Negeri (PN) Semarang dengan pidana penjara selama 2,5 tahun. Warga Polaman RT 1 RW 1, Kecamatan Mijen Semarang tersebut dinilai terbukti melakukan kesalahan, yakni memalsukan air zamzam dan menjualnya tanpa memiliki izin usaha industri.
“Mengadili, menyatakan terdakwa terbukti secara sah dan menyakinkan melanggar Pasal 24 ayat (1) UU 5/1984 tentang Perindustrian. Menjatuhkan pidana penjara selama 2 tahun 6 bulan dikurangi masa tahanan,” ungkap hakim ketua Dwiarso Budi Santiarto saat membacakan amar putusannya, Senin (19/5).
Hakim menilai, dalam menjalankan operasinya, terdakwa dengan menggunakan perusahaan miliknya CV Ebin Thalib Mandiri meski tidak mempunyai izin usaha industri. Padahal usaha tersebut memiliki omset miliaran rupiah. “Selain itu, terdakwa juga tidak menyampaikan secara jujur barang yang diproduksi dan diperjualbelikannya,” ungkapnya.
Ditambahkan, hal-hal yang memberatkan terdakwa adalah perbuatannya tidak mendukung program pemerintah di bidang industri. Selain itu, perbuatan terdakwa dinilai telah melukai hati umat Islam karena telah memalsukan air zamzam. “Sedangkan hal yang meringankan adalah terdakwa bersikap sopan, belum pernah dihukum, meminta maaf, dan menyesali perbuatannya,” imbuh hakim.
Menanggapi putusan tersebut, terdakwa didampingi penasihat hukumnya Edi Riyanto dan Handori menyatakan pikir-pikir. Putusan tersebut lebih ringan dari Jaksa Penuntut Umum (JPU) dari Kejati Jateng yang pada persidangan sebelumnya menuntut terdakwa dengan pidana penjara selama 3 tahun.
“Kami beri waktu 7 hari untuk pikir-pikir. Jika melewati batas waktu tersebut maka dianggap menerima putusan ini,” ungkap hakim ketua sebelum mengakhiri persidangan.
Seperti diketahui, kasus ini bermula saat Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Direskrimsus) Kepolisian Daerah (Polda) Jawa Tengah menggerebek pabrik pengolahan air zamzam palsu, di Polaman RT 01 RW 01 Kecamatan Mijen, Semarang, awal Januari 2014 lalu. Pabrik pengolahan tersebut berkedok sebagai tempat penggemukan sapi dan kambing.
Dalam persidangan, terdakwa yang kelahiran Semarang 27 Desember 1956 membeberkan pengalamannya selama 36 tahun di Arab Saudi dan bekerja sebagai tenaga kebersihan sumur zamzam menjadikannya sangat paham dengan air yang dipercaya umat Islam mempunyai banyak manfaat itu. Ia juga pernah mendatangkan air zamzam tersebut untuk dijual di Indonesia pada tahun 2009. Namun kegiatan tersebut terhenti dan sempat vakum selama 2 tahun sejak pemerintah Arab Saudi melarang memperjualbelikannya. Dikarenakan banyak pesanan, akhirnya pada tahun 2011 ia mempunyai inisiatif untuk memproduksi sendiri.
Ia kemudian mengambil air dari sumur artesis sedalam 108 meter di pabriknya kemudian menyulingnya dan dimasukkan ke dalam tandon air. Dari tandon tersebut kemudian dimasukkan ke dalam jeriken-jeriken yang telah dibeli label menggunakan tulisan Arab sehingga menyerupai air zamzam asli. Ia mengaku mendapatkan jeriken, plastik, dan stiker dari Semarang.
Total distribusi sesuai laporan bulan Maret hingga November 2012, omzetnya mencapai miliaran rupiah. Tercatat pada bulan Maret 2012 senilai Rp 308,4, April (Rp 370 juta), Mei (Rp 469 juta), Juni (Rp 672 juta), Juli (Rp 495 juta), dan Agustus Rp (71,6 juta), September (Rp 660 juta), Oktober (Rp 937 juta), dan November (Rp 322 juta). Sehingga, total pada tahun 2012 mencapai Rp 4,3 miliar. (fai/ton)