Laksmana Pratama Putra, Mahasiswa Undip yang Berbisnis Kuliner Jepang

Di sela kuliah di jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Diponegoro (Undip), Laksmana Pratama Putra membuka bisnis kuliner Jepang. Ia melibatkan anak panti asuhan. Seperti apa?

INTAN MAYLANI SD, Tembalang

LAKSMANA Pratama Putra tipe mahasiswa yang tak mau diam. Ia selalu mengisi waktunya dengan kegiatan yang positif. Sebelum membuka bisnis kuliner Takoyaki, cowok yang aktif di Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Manajemen Undip ini pernah membuat websiteLaksmana Pratama Putra, Mahasiswa Undip yang Berbisnis Kuliner JepangB–sapaan akrabnya— juga pernah berjualan gorengan di area kampus, namun hanya sebagai reseller.
Setelah jatuh bangun dalam berbisnis, Nano bersama teman-temannya akhirnya membuka bisnis kuliner Takoyaki dengan resep sendiri. Mahasiswa kelahiran 21 November 1993 ini mempunyai 3 karyawan yang membantunya. Satu karyawan saudaranya, dan dua temannya sendiri. ”Awalnya satu karyawan dari anak panti asuhan, tapi nggak lama dia keluar. Soalnya dia belum bisa bagi waktunya,” ujar cowok asal Kudus ini.
Ia menamakan bisnis kuliner ’Takoyaki 48’ dengan logo gurita di tengahnya. Menurutnya, banyak bisnis Takoyaki lain menggunakan nama Jepang yang susah diingat konsumen. Sehingga ia membuat nama yang simpel dan mudah diingat. Di balik itu, nama Takoyaki 48 tersebut mempunyai filosofi. Karena menu andalan mereka gurita maka lambang di tengah diberi gambar gurita. ”Gurita mempunyai tentakel 8. Jadi saya menulis angka 8. Sedangkan angka 4, karena tim kami berjumlah 4 orang,” jelasnya.
Awalnya, Nano memulai bisnisnya itu di daerah Ngesrep Tembalang. Namun lantaran tempat tersebut dinilai tidak strategis, ia kemudian pindah ke Jalan Banjarsari No 44, Tembalang atas permintaan konsumen. ”Konsumen banyak yang bilang di Ngesrep itu jauh dari kos-kosan. Ya, sudah kami akhirnya nyewa tempat di Banjarsari aja,” kenang anak kedua dari tiga bersaudara ini.
Takoyaki 48 menyediakan varian rasa Takoyaki, mulai dari Original Takoyaki, Plain, Bifu, Ika, Chikin, dan Mix. Mereka hanya mematok harga mulai Rp 7 ribu hingga Rp 13 ribu, tapi sudah mampu mengenyangkan perut. Takoyaki buatan Nano memang berbeda dari yang lain. Porsinya lebih banyak, menggunakan tepung yang gurih serta pakai racikan sendiri. Termasuk sausnya juga buatan sendiri. ”Jadi nggak perlu jauh-jauh belanja bahan ke luar kota atau ke luar negeri untuk membuat makanan seenak aslinya,” kata Nano.
Bisnis yang bermodal awal kurang lebih Rp 5 juta ini sudah punya konsumen setia dari kalangan anak SMA, mahasiswa hingga masyarakat umum. Ia menjaring konsumen lewat media sosial seperti Twitter @Takoyaki48 dan FanPage Takoyaki48. Dari situ bisnis Nano sudah mampu meraih omzet Rp 30 juta sebulan. Namun hasil yang mereka dapat masih mereka putar untuk mengembangkan bisnis. Rencananya, Juni mendatang ia akan membuka cabang di kawasan kampus Universitas Negeri Semarang (Unnes) Sekaran.
Mahasiswa yang hobi futsal ini mengaku pernah menggunakan sistem delivery dalam penjualannya. Namun hal itu dirasa tidak efektif dan tidak cocok. ”Karena saya pengin konsumen bisa banyak ngobrol dan tanya-tanya, kalau delivery kan ketemu konsumen cuman sebentar. Kemudian kami hilangkan sistem tersebut,” ujar putra pasangan Noor Choliq dan Endang Sarri Nuraeni ini.
Ke depan, ia berharap usahanya bisa terus berkembang. Ia juga ingin banyak memberdayakan anak panti asuhan. Selain itu, Nano juga berkeinginan mendirikan panti asuhan dan mengajari para anak yatim dalam berbisnis. ”Daripada ngasih anak panti ikan, mending ngasih kail kan. Makanya saya ingin sekali mengajari mereka bekerja,” tutur cowok pernah meraih juara II dalam program adu ide ini. (*/aro/ce1)