Suka Kartun Manga, Sering Kumpul Jakenpo

160

Natasya Windiany dan Laily Fidya, Juara Mendongeng Bahasa Jepang

Berawal dari hobinya menonton manga Jepang, dua siswa SMA N 1 Kendal, berhasil menyabet predikat jawara pidato mendongeng dalam bahasa Jepang. Seperti apa?

BUDI SETYAWAN, Kendal

DUA siswi berprestasi itu adalah Natasya Windiany, 17; dan Laily Fidya, 15. Keduanya baru saja mengikuti lomba tingkat Jateng-DIJ, yang digelar oleh Universitas Gajah Mada (UGM) Jogjakarta, Minggu (11/8) lalu.
Baik Natasya maupun Laily mengaku, kemauan kerasnya untuk belajar bahasa Jepang, berawal dari hobinya menggambar dan menonton film manga Jepang. ”Sejak SMP sudah mulai menggambar kartun-kartun manga,” ujar Natasya, kemarin.
Dari kegemarannya, ia pun mulai kumpul-kumpul dengan sesama penggila manga, yang tergabung dalam komunitas pencinta Jepang di Kendal. Namanya, Japanise Kendal Corporation (Jakenpo).
Dari situlah, ia mulai mendalami segala hal tentang Jepang. Mulai bahasa, budaya, dan makanan. Di komunitas itulah, Natasya kerap terlibat diskusi tentang hal-hal berbau Jepang.
”Belajar tari Jepang, mengenakan pakaian Jepang, dan belajar menggambar dan membuat komik manga, menambah ketertarikan aku akan Jepang. Yakni, Jepang negara yang menjunjung tinggi budaya sendiri. Selain itu, orang-orangnya terkenal sopan jujur dan penuh disiplin,” kata putri pasangan Dadang Sulaiman dan Nurlia itu.
Jakenpo, lanjut dara kelahiran 3 September 1996 itu, membuat dirinya percaya diri. Utamanya, ketika ia harus tampil dalam perlombaan Bahasa Jepang. Sesama anggota, sudah terbiasa cas-cis-cus menggunakan Bahasa Jepang.
”Bahkan, untuk mengikuti lomba tingkat Jateng-DIJ di UGM, kami tanpa persiapan sama sekali. Dua hari mendaftar dan langsung ikut lomba.”
Natasya dan Laily ini tercatat sudah beberapa kali mengantongi kejuaraan lomba Jepang. Seperti juara II minidrama Jepang yang digelar di Unnes Semarang, juara I lomba membuat komik Jepang tingkat Jateng-DIJ dan beberapa lomba kostum kartu Jepang atau cosplay.
Untuk belajar Bahasa Jepang, Laily mengaku selain di sekolah, juga belajar melalui internet dan video-video di Youtube. ”Melihat dan mendengar cara dialog orang Jepang. Sebab, pelafalan bahasa antara Indonesia dan Jepang sangat berbeda.”
Sedangkan untuk belajar menggambar kartun manga, putri pasangan Heru Sungkowo dan Sri Endah Sedah Ayu itu belajar secara otodidak.
Hal berkesan ketika mengikuti lomba, kata Laily, saat ia mengikuti lomba minidrama Jepang di Unnes. Kala itu, timnya tidak memiliki persiapan kostum. ”Sedangkan tim-tim pesaing, kostumnya lengkap dan mirip dengan tokoh Jepang betulan.”
Meski begitu, ia cukup puas. Timnya berhasil meraih juara II. ”Sempat ditertawakan oleh penonton dan juri karena kostum, tapi akhirnya kami bisa menang meski hanya juara II. Rasanya senang, karena bisa membuat bangga orang tua dan sekolah.”
Guru Bahasa Jepang SMA 1 Kendal, Turniasih mengatakan, dua siswinya memiliki bakat dalam berbahasa Jepang. Melihat potensi tersebut, ia maupun guru-guru lain, kerap mendaftarkan Laily dan Natasya mengikuti lomba.
Kepala SMA N 1 Kendal, Sunarto menambahkan, prestasi yang ditorehkan kedua siswinya bisa menjadi teladan bagi siswa-siswa lain untuk menorehkan prestasi yang membanggakan sekolah. (*/isk/ce1)

Tinggalkan Komentar: