Mahal Boleh, asal Aman

111

Pengelolaan parkir di Kota Semarang, masih jauh dari harapan. Banyak tempat yang tidak semestinya dijadikan parkir, malah menjadi tempat berkumpulnya kendaraan. Akibatnya, mengganggu kelancaran lalu lintas. Juga rawan hal-hal yang tidak diinginkan. Bagaimana pendapat sejumlah warga Kota Atlas?

Mahal Boleh, asal Aman

IRA Widiastuti, perempuan yang sehari-hari menjadi pengacara ini, mengaku banyak menemukan parkir-parkir liar, selain parkir resmi. Parahnya, hal itu tidak didukung dengan manajemen yang baik, sehingga menjadi kendala. ”Sebenarnya jika dikelola dengan baik, akan menjadi baik pula. Bagi saya, asal ada jaminan keamanan dan ketersediaan lahan parkir yang cukup tidak menjadi masalah.”
Ira mencontohkan, beberapa titik yang harus menjadi perhatian, adalah tempat keramaian. Seperti rumah sakit dan restoran. Jika tidak didukung dengan lahan yang memadai— sementara jumlah kendaraan semakin meningkat— mau tidak mau akan menggunakan jalan sebagai parkir. ”Seperti di Jalan Pandanaran. Di sana, ada semacam parkir dadakan yang tentu mengganggu kelancaran lalu lintas.”
Ira berharap, pemerintah dalam mengelola dan menyediakan parkir tidak sekadar parsial. Tetapi harus menyeluruh dan komprehensif. (fai/isk/ce1)

Ada Udang di Balik Batu

M. Farhan, salah satu asisten kordinator Penghubung Komisi Yudisial (KY) Jawa Tengah berpendapat, pengelolaan parkir di Kota Semarang, seperti ada udang di balik batu, yang tidak dilihat oleh kebanyakan orang. ”Di balik adanya parkir-parkir liar tersebut, tentu ada setoran di luar pemerintah. Oleh karena itu, harus segera ditertibkan,” ungkapnya.
Dengan adanya parkir liar tersebut, lanjut Farhan, maka akan mengurangi pemasukan daerah. Selain itu, menyalahi tata kelola pembangunan kota, karena tidak sesuai desain yang direncanakan.
Boleh saja menggandeng pihak ketiga dalam pengelolaan, tetapi harus sesuai dengan undang-undang. ”Sebagai masukan, diharapkan beberapa pusat keramaian memprioritaskan penyediaan lahan parkir sehingga tidak menimbulkan kemacetan jalan.” (fai/isk/ce1)

Dimanfaatkan Oknum Tertentu

NILA Chusniya, mahasiswi Universitas Diponegoro (Undip) Semarang menyayangkan maraknya tempat parkir liar yang ada di tepi jalan Kota Semarang. Menurut Nila, semakin lebar pembangunan jalan, justru dimanfaatkan oleh oknum-oknum tertentu untuk lahan parkir. ”Seperti di Jalan Sisingamaraja, Sultan Agung, dan Mataram (MT Haryono). Anehnya, di sana terdapat kantor polisi yang seakan menganggap seperti hal biasa,” keluhnya.
Nila berharap pemerintah tegas menindak pelaku parkir sembarangan di tempat yang liar. Jika memang melanggar, maka harus ditertibkan. Bila perlu, Pemkot Semarang bisa meniru cara yang ada di DKI Jakarta, menyegel kendaraan tersebut. ”Hal itu berlaku bagi siapa pun yang melanggar tanpa terkecuali.” (fai/isk/ce1)

Jukir Hanya Mau Uangnya

AGUS Triyono, dosen Universitas Dian Nuswantoro (Udinus) Semarang menilai, Pemkot harus segera menerapkan regulasi yang ketat, terkait maraknya parkir liar.
Tujuannya, untuk mengontrol potensi kebocoran pada pendapatan pemerintah. ”Beberapa keluhan yang saya rasakan, beberapa di antara tukang parkir hanya mau mengambil uangnya, tanpa mengutamakan keamanan dan pelayanan,” ungkapnya.
Agus menyarankan, pemerintah harus benar-benar serius menangani permasalahan tersebut. Ia melihat, pemerintah masih lamban dalam menciptakan pelayanan yang baik. ”Bila perlu para petugas parkir itu diberi pelatihan atau diklat khusus untuk menjadi melayani masyarakat dengan baik.” (fai/isk/ce1)