Kepedulian Sosial untuk Kurangi Kemiskinan

128

TEMBALANG – Keberadaan masyarakat miskin masih terus menjadi tantangan yang sulit dipecahkan bagi pemerintah, baik di tingkat pusat maupun daerah. Ada banyak permasalahan yang menjadi penyebab terus berlanjutnya siklus kemiskinan di tengah masyarakat Indonesia. Mulai dari kualitas hidup penduduk yang rendah, kecukupan dan mutu pangan terbatas, layanan kesehatan tidak terjangkau, dan layanan pendidikan yang berkualitas masih relatif mahal.
Menurut Kepada Dinas Koperasi, Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah Jawa Tengah Sujarwanto Dwiatmoko, angka kemiskinan di Provinsi Jawa Tengah masih cukup tinggi, yaitu sebesar 14,98 persen. Angka ini di atas rata-rata nasional sebesar 11 persen. “Untuk mengatasi kemiskinan dan pengangguran di Jawa Tengah, 5 tahun ke depan pemerintah Provinsi Jawa Tengah memiliki beberapa program yaitu, kecukupan kebutuhan dasar, memiliki akses pendidikan, dan memiliki pendapatan,” jelasnya saat menjadi pembicara dalam diskusi ‘Sospeak (Social Speak), Bekerja dengan Hati Menebar Inspirasi’ di Gedung Prof Sudharto Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, Sabtu (17/5).
Selain itu, menurut Sujarwanto, pemprov juga telah pengembangan produk unggulan daerah untuk mengatasi kemiskinan. “One vilage one product berbasis koperasi. Dalam program tersebut dari input hingga output kami kembangkan dengan betul antara lain dengan aspek pemodalan, tenaga ahli, bahan baku,” kata Sujarwanto.
Menurutnya, penanggulangan kemiskinan merupakan tanggung jawab semua pihak karena apabila tidak tertangani dengan baik akan berdampak sangat luas. Sujarwanto juga mengatakan, dengan meningkatkan kepedulian mahasiswa tentang kehidupan sosial dapat mengurangi permasalahan-permasalahan sosial yang ada
Pendiri Yayasan Pecinta Anak Bangsa Imelda Fransisca yang hadir dalam acara tersebut menekankan pentingnya pendidikan dalam memerangi kebodohan, sehingga permasalahan seperti pengangguran dan kemiskinan tidak pernah terjadi. “Kita dapat menumbuhkan semangat membaca kita. Kita tahu sendiri jika budaya membaca itu sulit dibangun. Oleh karena itu, kita mulai mencerdaskan kehidupan bangsa dengan membaca, maka kemiskinan dan pengangguran di negara kita tidak pernah ada,” kata wanita yang pernah menempuh pendidikan S3 di Amerika. (mg1/ton)

Tinggalkan Komentar: