Indikasi Menuju Krisis Moral



813

Sosiolog Yetty Rowulaningsih menilai banyak faktor yang menyebabkan judi skor bola kembali merebak. Mulai dari permasalahan sosial hingga kurangnya penanaman nilai-nilai di lingkungan keluarga. “Fenomena ini bisa dibilang cukup kompleks. Penyebabnya bukan hanya variabel tunggal, tapi banyak aspek,” ujarnya.

Diantaranya mental masyarakat yang masih suka mendapatkan keuntungan dengan cara-cara yang instan. Salah satunya yaitu dengan judi tebak skor bola, tanpa memikir dampak yang lebih jauh.

”Mungkin judi di permukaan tidak terlalu kelihatan, tapi ternyata masih tetap ada. Kebetulan ini pas momennya banyak pertandingan bola. Sekalian dijadikan ajang judi,” ujarnya.

Kemudian ada juga yang sekadar iseng ikut-ikutan, karena lingkungan atau komunitas di sekelilingnya melakukan praktik tersebut. Kendati demikian, ia sangat menyayangkan, jika judi-judi semacam ini sudah menyentuh kalangan pelajar.

”Kalau pelajar-pelajar ini mungkin alasannya ya sekedar iseng, ikut-ikutan untuk seru-seruan. Tapi kok menurut saya kalau sampai pelajar iseng judi itu ya nggak tepat. Ini bisa jadi indikasi menuju krisis mental,”ujarnya.

Menurutnya orangtua dan keluarga sebagai lingkungan terdekat berperan penting dalam mengatasi hal tersebut. Yaitu dengan memberikan perhatian yang selayaknya diterima anak serta penanaman nilai-nilai yang seharusnya diterima anak-anak sejak dini.

”Saat ini seringkali orangtua abai. Sibuk mencari materi tapi kurang memberikan perhatian. Sehingga nilai-nilai yang seharusnya ditanamkan pada anak sejak dini, jadi memudar,”ujarnya.

Demikian halnya dengan pergeseran nilai di masyarakat. Kondisi masyarakat yang dulu lebih guyub kini kebanyakan bersifat individualis. Acuh tak acuh dengan perkembangan dan keadaan sekitar. Hal ini memberi kesempatan bagi anak-anak muda untuk dapat menyimpang dari nilai-nilai tersebut. “Masyarakat sekarang cenderung cuek, ada anak-anak muda bergerombol, taruhan, judi, ya cuek saja. Harusnya kan lebih peduli, diarahkan dan lain-lain,” ujarnya. (dna/ton)