Sanggar Tari Sibedug



Seni menjadi aspirasi seniman menyampaikan keluhan, suara, maupun unek-unek. Hal itulah yang dilakukan Bagus Pramudyo, Guru SMPN2 Doro, bersama rekannya di Sanggar Tari Sibedug, Kajen, Kabupaten Pekalongan.
Berkat keuletannya, dia berhasil menciptakan karya seni tari. Tarian itu dinamakan Tari Lolong Gung. Tarian itu dimainkannya bersama anak didiknya dari siswa SMPN 2 Doro. Setidaknya ada 17 orang memainkan tarian itu.
Dia juga ikut terlibat dalam pertunjukan tari. Yakni menjadi Raja Kelelawar. Hal itu dilakukan selain untuk mendampingi anak didik, juga menyempurnkan jalan cerita pada tarian. Tari tersebut tampak apik ketika dimainkan.
Tari Lolong Gung maksudnya adalah tari yang lokasi ceritanya di Desa Lolong. Di desa itu juga banyak kalong atau kelelawar. Sedangkan Gung adalah besar. Artinya, banyak ditemukan kelelawar besar. Kelelawar itu biasa memangsa pohon yang memiliki buah. Kebetulan, di desa tersebut banyak pohon yang berbuah. “Ada berbagai macam buah. Tidak hanya buah durian saja. Buah-buah itu setiap harinya dimangsa oleh kelelawar,” kata Bagus.
Cerita dimulai seorang petani yang rajin menanam. Sampai akhirnya, tanaman itu tumbuh. Buah-buahan segar senantiasa tumbuh ranum di pepohonan. Puluhan ekor kelelawar pun mendatangi pepohonan, untuk memangsa buah-buahan segar. Kondisi demikian membuat petani dan warga setempat gelisah.
Kegelisahan warga berakhir saat muncul seorang ksatria di tengah-tengah permukiman. Ksatria itu menolong warga. Yakni dengan menumpas habis-habisan para kelelawar. Bahkan, ksatria harus bersusah payah membasmi raja kelelawar. Usaha ksatria nyaris gagal saat raja kelelawar menggigit lehernya.
Dengan segala kesaktiannya, ksatria mengeluarkan ilmu pamungkasnya menghabisi raja kelelawar. Raja kelelawar berjanji tidak akan mengganggu tanaman petani lagi. Hal ini membuat petani senang. Petani menganugerahinya sebuah durian. Selain juga, petani berucap terima kasih kepada ksatria. “Semua gerakan tarian kami buat semirip mungkin. Seperti gerakan kaki kelelawar, dan kepakan sayapnya,” tambahnya.
Gerakan tarian kelelawar ditampilkan secara indah. Para penari yang seluruhnya perempuan tampak gemulai menari. Mereka cekatan menggerakkan tangannya seolah seperti terbang. Bahkan saat terbang, kaki mereka berdiri dengan sedikit jinjit.
Proses kreatif tarian sendiri memakan waktu setidaknya tiga mingu. Dengan sutradaranya adalah Joko Heru. Pimpinan produksinya Suhadi. “Saya bagian koreografinya dibantu dengan Yustin,” tukasnya. (ris/jpnn)