MESKI keturunan Tionghoa, Maria Vania Kuncara justru jatuh cinta pada budaya Jepang. Kecintaannya pada budaya negeri matahari terbit tersebut sejak dia duduk di bangku SD. Tak heran, di setiap kegiatan berbau negeri sakura itu, Vania tak bakal melewatkan. Termasuk saat acara Bunkasai atau festival kebudayaan Jepang di kampus Universitas Dian Nuswantoro (Udinus) Semarang, Minggu (18/5) kemarin.
”Entah kenapa, sesuatu yang mengandung negara Jepang saya sangat suka. Apalagi dengan sifat dan perilaku masyarakat Jepang, saya sangat suka,” kata mahasiswi Magister Manajemen (S2) Universitas Diponegoro (Undip) Semarang ini kepada Radar Semarang.
Vania juga menyukai karakter wanita Jepang. Menurut dia, wanita Jepang pada umumnya mempunyai karakter sopan, jiwa yang lembut, memiliki tata krama yang baik, aktraktif, rajin, etos kerja yang tinggi, pandai bergaul, supel, pekerja keras, serta memperhatikan opini orang lain. ”Wanita-wanita Jepang tidak memandang orang dari agama yang dianut, suku dan ras seseorang, mereka lebih menghargai proses dan skill yang dimiliki oleh seseorang,” ujar gadis 25 tahun ini.
Ia juga menilai wanita Jepang ramah pada siapa saja, bahkan tidak segan dan tidak malu untuk menyapa orang lain jika berpapasan di jalan atau ketika bertemu di tempat-tempat umum. ”Wanita Jepang bukan tipe wanita yang lemah, mereka adalah tipe wanita yang kuat dan pekerja keras dengan jam kerja tertinggi di dunia di atas wanita-wanita negara lain,” kata Vania yang kemarin tampil cantik dengan busana kimono.
Tolok ukur nilai kecantikan pada wanita Jepang, menurut Vania, adalah memiliki kulit putih yang sehat dan terawat, gigi yang bersih, bola mata yang hitam, hidung yang nyata, dan mempunyai rambut terawat. ”Wanita Jepang cantik dikarenakan pola makan mereka yang teratur, dan cara hidup orang Jepang yang gemar berjalan kaki, lari pagi, jalan cepat, bersepeda atau senam,” beber putri pasangan almarhum Harry Susanto Kuncara dan Kitty Januaria Wijoyo ini.
Meski suka dengan budaya dan karakter wanita Jepang, Vania tak ingin melupakan budaya Tionghoa yang notabene adalah budaya warisan dari leluhurnya. ”Budaya Tionghoa dan Indonesia tetap nomor satu,” katanya. (mg1/aro/ce1)