Waisak jadi Ajang Pacaran

131

Pengunjung Membeludak

MUNGKID– Perayaan Waisak 2558 BE/2014 kembali menyisakan masalah. Membeludaknya pengunjung membuat panitia kewalahan dan pengaturan pengunjung pun tak berjalan sebagaimana mestinya.
Hal itu membuat kesakralan hari raya umat Buddha itu pun sedikit terganggu. Banyak pengunjung berpakaian tak sepantasnya. Juga tak sedikit pasangan muda-mudi yang justru menjadikan malam detik-detik Waisak itu sebagai ajang pacaran.
”Di belakang banyak pasangan muda-mudi yang berpeluk-pelukan mesra. Bahkan sambil tiduran,” kata Santoso, salah satu umat asal Temanggung, kemarin.
Tak hanya itu, dia juga melihat banyak perempuan berpakaian minim. “Pakai celana pendek-pendek dan berjalan di depan umat,” terang dia.       
Selain itu, banyaknya fotografer hobies juga sempat mengganggu prosesi Waisak. Tepatnya saat para biksu hendak melaksanakan ritual pradaksina mengeliling Candi Borobudur. Banyaknya penghobi foto membuat prosesi tersendat.
Puncak pengunjung terjadi saat pelepasan 1000 lampion ke udara. Pintu masuk yang semula hanya membatasi untuk undangan dan peserta dibuka begitu saja sehingga massa terkonsentrasi di pelataran candi.     
Kejadian ini seperti mengulangi Waisak tahun 2013. Pengunjung tak terkontrol termasuk penyuka fotografi. Membeludaknya pengunjung ini diduga tidak tegasnya panitia. Seharusnya, antara umat Buddha dan pengunjung dipisahkan seperti rencana semula.       
Direktur PT Taman Wisata Candi Borobudur Prambanan dan Ratu Boko Laily Prihatiningtyas mengatakan pengaturan pengunjung tidak berjalan sesuai rencana semula. Menurutnya, seharusnya pengunjung dan umat dipisahkan.
“Dalam rapat (waisak), sejak kedatangan pengunjung dan umat dipisahkan. Pengunjung masuk dari pintu wisatawan sementara umat dari pintu tujuh (hotel Manohara, red),” katanya.
Namun, hal itu tidak berjaalan sebagaimana mestinya. “Banyak pengunjung masuk lewat pintu tujuh,” terang dia.
Tidak hanya itu, dalam rapat persiapan Waisak juga sudah dibahas jika pengunjung dilarang masuk ke pelataran Candi Borobudur tempat prosesi dilaksanakan. “Pengunjung seharusnya hanya sampai di Lapangan Lumbini. Dan menikmati (waisak) dari sana,” beber dia.  Hal ini, tentu disayangkannya. “Panitia seharusnya lebih tegas,” harap Laily, sapaan akrabnya. (vie/lis)