Berdalih Sumbangan

KENDAL—Pungutan liar (Pungli) berkedok sumbangan dana wisuda ternyata tak hanya terjadi di tingkat SMA. Sejumlah SD dan SMP di Kendal juga menarik biaya kepada orang tua siswa dengan besaran di atas Rp 100 ribu per siswa.
Penarikan dana sumbangan perpisahan dinilai memberatkan orang tua dan terlalu menghambur-hamburkan uang. Salah satunya terjadi di SMP N 1 Brangsong yang menarik sumbangan kepada orang tua siswa sebesar Rp 150 ribu.
Salah satu orang tua, Wahyudi, 43 menyebutkan alasan sekolah menarik sumbangan perpisahan tersebut adalah untuk pembayaran kenang-kenangan saja. “Sumbangan tersebut ditetapkan dalam rapat komite sekolah dan orang tua siswa, bulan April lalu,” ujarnya kepada Radar Semarang, kemarin (16/5).
Sebenarnya banyak orangtua siswa berusaha menolak karena sangat memberatkan. Terutama bagi orang tua yang tidak mampu. Sebab, banyak orang tua siswa yang menyekolahkan di SMPN 1 Brangsong berasal dari kalangan orang desa yang hanya berpenghasilan pas-pasan. “Tapi kata pihak sekolah tidak bisa dibatalkan, alasannya sudah disepakati oleh pihak sekolah, komite dan orang tua dalam rapat,” tandasnya.
Ia mengatakan, sebenarnya pihaknya tidak keberatan dengan pemberian kenang-kenangan, namun sekolah semestinya tidak mematok besaran dana sumbangan. “Namanya sumbangan kan seikhlasnya, jika sudah ditetapkan itu artinya mewajibkan kepada orang tua untuk membayar sekian,” keluhnya.
Selain itu, kelulusan SMP semestinya tidak perlu bermewah-mewah, sebab para siswa masih harus melanjutkan pendidikan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. “Sekolah yang lebih tinggi, tentu butuh biaya yang tidak sedikit. Tapi sekolah justru terkesan ingin mengambil keuntungan dari momen kelulusan siswa ini,” paparnya.
Orang tua juga tidak diberi rincian dana akan digunakan untuk kegiatan apa saja. “Saya sendiri tidak tahu untuk apa saja,” akunya.
Selain SMP N 1 Brangsong, tarikan sumbangan kenang-kenangan dan perpisahan juga terjadi dalam perayaan kelulusan di SD N 1 Kebonharjo. Para orang tua siswa diwajibkan membayar uang Rp 125 ribu. Sri Wihastuti, 36, mengatakan penarikan dana sumbangan wisuda di SD N 1 Brangsong tersebut digunakan untuk kegiatan dan pembuatan kenang-kenangan Rp 100 ribu. Sisanya Rp 25 ribu untuk dana perpisahan.
“Masak untuk perpisahan SD semahal itu, kasihan orang tua seperti kami yang tidak mampu jadi terbebani. Cukup snack (makanan ringan) dan pengambilan ijazah saja, tidak perlu ada kenang-kenangan,” katanya.
Ia mengaku meski untuk memasukkan anaknya ke tingkat SMP sederajat sudah dibebaskan dari sumbangan pembangunan, namun faktanya banyak sekolah yang masih melakukan penarikan sumbangan. Seperti untuk dana kegiatan OSIS, ekstrakuliler, seragam sekolah, buku dan sebagainya. “Sekolah gratis itu tidak ada, kenyataannya orang tua masih membayar,” tegasnya. 
Menanggapi hal tersebut, Anggota Dewan Pendidikan Kendal Agus Imam mengaku gusar dengan momen kelulusan yang justru dimanfaatkan sekolah untuk menarik sumbangan kepada siswa.  
Dia tidak sepakat dengan penarikan dana sumbangan perpisahan dan pemberian kenang-kenangan. “Biaya di atas Rp 100 ribu itu kan sudah membebani siswa. Harusnya cukup untuk makanan ringan, sewa tenda dan soundsystem secara sederhana saja, tidak perlu bermewah-mewah,” timpalnya. 
Ia akan melapor pada Dinas Pendidikan tentang adanya sekolah yang sudah menetapkan besar dana sumbangan untuk perpisahan. Sebab hal itu tidak boleh karena melanggar Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 60 Tahun 2011 Tentang Larangan Pungutan Biaya Pendidikan tingkat SD dan SMP. “Sumbangan untuk sekolah memang masih diperbolehkan, tapi sifatnya tidak mengikat besaran dananya dan waktu pembayarannya. Jadi seiklhasnya orang tua untuk memberikan sumbangan,” imbuhnya.
Kepala Dinas Pendidikan Kendal,Muryono mengaku belum menelusuri lebih lanjut berapa banyak sekolah yang melakukan penarikan sumbangan wisuda kepada siswanya. “Tapi kami mengimbau agar kelulusan hendaknya dilakukan sederhana saja, tidak perlu berlebihan,” ucapnya. (bud/ton)