Pelajar Kampanye Lingkungan Melalui Mural 

Sejumlah siswa SMA/SMK di Jateng dan DIY punya cara sendiri untuk turut mengkampnyekan lingkungan. Mereka menggunakan media mural atau lukisan di dinding.       

Lukisan itu dibuat di tembok luar bangunan SMA Pangudi Luhur Van Lith Muntilan. “Selain untuk mengembangkan kreativitas. Kami juga bertujuan untuk memerangi aksi vandalisme yang kerap dilakukan oleh pelajar dengan mural ini,” ujar salah satu panitia peringatan hari Van Lith (HVL), Maria Magdalintan Kalvari, kemarin.       
Dia memaparkan, ada sekitar sembilan sekolah dan 10 klub mural yang mengikuti lomba ini. Adapun, tema yang diambil adalah tema tradisional, lingkungan, teknologi, dan modern. Sementara, dia juga mengatakan, lukisan dan coretan para peserta tidak boleh bersifat mengotori bangunan.       
“Kami ingin agar coretan-coretan itu punya makna dan menghiasi tembok-tembok yang kosong tanpa merusak keindahannya,” jelasnya.       
Ketua panitia HVL, Antonius Suratin menjelaskan untuk tema acara tahun ini adalah ‘Together For Others’, yang harapannya dapat memupuk kebersamaan dan mampu membawa perubahan ke arah yang lebih baik.     
“Ini sesuai dengan semangat juang Romo Van Lith,” katanya.    Pada kegiatan tahun ini, kata Suratin, juga akan digelar pameran yang disajikan dengan nuansa tradisional-modern. Pada bagian ini, akan diadakan berbagai macam pameran. Di antaranya, pameran robotik, permainan tradisional dan modern, pameran foto, lukisan, wayang dan lainnya.     
Alingga, 17 salah satu siswa kelas XI SMA Tarakanita Magelang mengaku senang dengan kegiatan kampanye lingkungan itu. Dalam kesempatan itu dia menggambar Mbah Marijan dan gunung serta pepohononan yang berbentuk mirip gunungan dalam kesenian wayang.
“Saya menggambar Mbah Maridjan. Dia sosok yang penting di Gunung Merapi,” kata Alingga.
Alingga menuturkan lukisan mural yang dibuatnya memang bertemakan lingkungan hidup. Dia membuat gambaran asrinya lingkungan di sekitar Gunung Merapi. Keasrian itu ditampilkannya dari pepohonan yang digambarnya. Sementara, dia juga menggambar tokoh yang menyerupai punakawan di bawah gambar gunung.       
“Mereka (punakawan) adalah rakyat yang hidup dan dekat dengan Merapi. Merapi bagi mereka adalah gunung yang menghidupi,” papar dia. Dia mengaku gambar mural yang dibuat bersama dengan lima orang teman sekolahnya itu memiliki judul Merti Bumi Merapi. Dia ingin mengkampanyekan menjaga lingkungan di sekitar Merapi. Menjaga lingkungan itu bisa dilakukan dengan melakukan reboisasi.  “Bukan hanya melakukan eksploitasi besar-besaran dengan menambang saja di Merapi. Tapi juga menghijaukan wilayahnya,” kata dia. (vie/lis)