Waisak Dirayakan Sederhana

111

KUDUS–Peringatan hari raya Waisak di Kabupaten Kudus yang jatuh hari ini (15/5) berlangsung sederhana dan lebih memfokuskan untuk pembenahan dan perbaikan diri menjadi lebih baik bagi peganut agama Budha.
Pendeta Vihara Bodhi Pundharika Kalirejo, Kecamatan Undaan, Romo Prayogo mengungkapkan, puncak perayaan Waisak di Kudus kali ini akan dilaksanakan 31 Mei mendatang. ”Kami menunggu perayaan secara nasional selesai,” ungkapnya kepada Jawa Pos Radar Kudus kemarin.
Dia melanjutkan, untuk perayaan Waisak kali ini, ada sekitar 30 orang dari umat Budha Desa Kalirejo yang berangkat ke Candi Borobudur di Magelang dan Candi Sewu di Klaten. Pemusatan acara Hari Raya Waisak akan dilakukan di Candi Borobudur hari ini (15/5).
Selain dari Kalirejo, juga ada umat Budha dari Desa Kutuk, Kecamatan Undaan, yang akan memberangkatkan satu bus berisi sekitar 50 orang.
Romo Prayogo mengungkapkan, perwakilan yang diberangkatkan ke Candi Borobudur dan Candi Sewu akan mengikuti ritual puja bhakti bersama di Hari Suci Waisak. Makna ritual tersebut, untuk menyatukan hati, membersihkan pikiran, menjernihkan badan dan jasmani sambil melafalkan nama Budha.
Dia menjelaskan, pada malam Waisak, dia sekeluarga akan bermeditasi, berdoa bersama agar diberi kesehatan, murah rezeki, dan dipenuhi segala permintaan oleh para dewa. ”Memaknai Waisak sebagai bentuk penyadaran dan refleksi diri,” ungkap salah satu pendeta Vihara Bodhi Pundarika ini.
Hal senada diungkapkan salah satu Pendeta Vihara Budha Santi Romo Suparno. Dia mengatakan, perayaan Waisak kali ini akan dilakukan secara sederhana. Di Vihara Budha Santi Desa Kutuk, Kecamatan Undaan, melakukan ritual puja bhakti yang dilakukan tadi malam (14/5) sekitar pukul 19.00.
Dalam ritual tersebut, para umat Budha memakai pakaian ambenan dan sesaji kormatan, yaitu sesaji yang langsung dimakan bersama setelah ritual puja bhakti. Sebelumnya di pada Rabu sore telah didendangkan lagu-lagu Budhist. ”Sebagai bentuk perayaan hari raya Waisak,” ungkapnya. (ham/lil/ida)