Pertambak Keluhkan Pabrik Batu Bara

192

KENDAL—Pengolahan batu bara di sekitar Pelabuhan Kendal, dikeluhkan sejumlah petani tambak (petambak). Sejak berdirinya pabrik batubara di sekitar tambak, budidaya ikan bandeng dan udang yang menjadi mata pencaharian para petani, disinyalir banyak yang mati.
Matinya bandeng dan udang, diduga akibat limbah pengolahan pabrik yang tidak dikelola dengan baik. Petani tambak mengklaim mengalami kerugian hingga mencapai puluhan juta.  
Salah satu petani tambak, Ahmatur, 52, menuturkan, limbah batu bara kerap mengalir ke tambaknya. “Terutama saat turun hujan. Limbah batu bara dibawa melalui air, kemudian mengalir ke tambak-tambak. Sehingga air tambak menjadi tercemar. Akibatnya, ikan dan udang banyak yang mati,” tuturnya, kemarin (14/5).
Akibat limbah batubara yang diduga tidak dikelola secara maksimal, air tambak menjadi keruh kehitaman dan bau.
“Kalau musim kemarau, asap maupun serpihan debu pengolahan batu bara juga banyak yang jatuh ke air tambak, menyebabkan ikan tidak bisa bertahan karena air tercemar.”
Dikatakan, di tambaknya seluas 4 hektare, ia menebar 12 ribu bibit bandeng. Dengan kondisi tambak normal, bisa memanen lebih kurang 10 ribu bandeng atau sekitar 2,5 ton. Hasil penjualan setiap kali panen berkisar Rp 45-50 juta.
Tapi, panen dua bulan lalu, ia hanya mendapatkan l separuhnya saja. Yakni, hanya bisa memanen bandeng 1,5 ton saja atau senilai Rp 25 juta. “Jika biasanya bandeng umur lima bulan itu bisa panen, tapi kali ini harus enam bulan. Itu pun bandeng masih kecil-kecil.”
Hal senada disampaikan oleh Kasipan, 30, seorang pekerja tambak. Ia menyebut, bandeng yang dikelolanya, selain banyak yang mati, juga tidak bisa tumbuh maksimal. “Sedangkan udang, sama sekali tidak bisa panen, karena udang-udang mati semua air tercemar limbah.”
Kondisi air yang diduga tercemar limbah, membuat Kasipah harus memindahkan ikan-ikan bandeng ke tambak lain, yang lokasinya jauh dari pengolahan batubara. “Jika tidak dipindahkan, bisa banyak yang mati dan gagal panen Mas,” keluhnya.
Ia berharap, pemerintah segera melakukan penertiban kepada pabrik-pabrik pengolah batu bara yang berada di sekitar tambak. (bud/isk)