MUNGKID– Detik-detik Waisak 2558 BE/2014 di Candi Borobudur Kabupaten Magelang yang bertepatan dengan sempurnanya purnama berlangsung khidmat, dini hari kemarin pukul 02.15.37. Seluruh umat diajak merenung dan menghayati ajaran dharma Sang Buddha.     
Prosesi detik-detik Waisak berlangsung sekitar 30 menit. Prosesi dipimpin oleh Biksu Tadisa Paramita Mahasthaviira.  Seluruh umat bersikap anjali. Detik-detik Waisak ditandai dengan pemukulan beduk dan genta, kemudian pembacaan parita (doa) oleh masing-masing majelis agama Buddha secara bergantian.
“Welas kasih harus menggema dan menyebar ke segenap penjuru untuk menetralisir akumulasi kegelisahan umat manusia,” kata Biksu Tadisa Paramita Mahasthaviira.    Selain itu, Biksu Tadisa juga mengajak supaya ummat terus meneladani Sang Buddha. Mulai dari kesederhanaan, kehidupan bersih yang mengekang kehidupan jahat.       
“Sang Buddha selalu mengajarkan dharma. Cinta kasih, simpati, dan kesemimbangan batin. Cinta kasih adalah rasa persaudaraan, persahabatan yang mendorong berbuat kebaikan. Cinta kasih adalah keinginan untuk membahagiakan makhluk lain dan menyingkirkan kebencian. Cinta kasih yang diajarkan Sang Buddha adalah cinta kasih yang universal,” kata dia.       
Usai berdoa di depan altar, para biksu melakukan pradaksina, yakni berjalan mengelilingi Candi Borobudur searah jarum jam sebanyak tiga kali. Prosesi kemudian dilanjutkan dengan  menerbangkan 1.000 lampion dari pelataran sisi barat Candi Borobudur. Kegiatan ini sekaligus menutup seluruh rangkaian Waisak.
Menurut kepercayaan umat Buddha, pelepasan lampion yang membubung tinggi ke angkasa merupakan simbol penyampaian doa-doa dan harapan kepada Sang Buddha untuk kebaikan umat pada masa yang akan datang. Lampion yang berwarna putih itu merupakan penghantar doa agar dikabulkan Sang Buddha.
Ketua DPD Perwakilan Umat Buddha Indonesia (Walubi), David Herman Jaya, mengatakan puncak Tri Suci Waisak dirayakan sekali dalam setahun ketika bulan purnama yang terjadi pada bulan Mei atau purnama sidhi. “Penentuan ini mungkin mirip seperti penghitungan bulan dalam Islam,” tutur David.       
Seluruh rangkaian prosesi detik-detik Tri Suci Waisak ini dikuti oleh ribuan umat Buddha dan masyarakat umum dari berbagai daerah di Indonesia dan mancanegara. Mereka terlihat bersemangat meski sejak sore hingga malam kawasan Candi Borobudur diguyur hujan lebat. Prosesi selesai sekitar pukul 04.00 pagi. (vie/lis)