Pembunuh Sigit Divonis 15 Tahun

200

MUNGKID — Pengadilan Negeri (PN) Mungkid Kabupaten Magelang menjatuhkan vonis berat terhadap pelaku utama penganiayaan yang berujung tewasnya Gustian Sigit Prasetyo, 19, warga Ponggol, Desa Tamanagung, Kecamatan Muntilan, Kabupaten Magelang. Terdakwa Arif alias Penyu, 21, warga Ponalan Desa Tamanagung divonis penjara 15 tahun.
Vonis yang dijatuhkan majelis hakim, lebih berat dari tuntutan sembilan tahun yang diminta Jaksa Penuntut Umum (JPU). Dua terdakwa lain, Yoga Bagus Safei Antoro dan Muh Hari Arbani dihukum 3 tahun penjara.
Vonis dibacakan oleh ketua majelis hakim, Sulistyanto Rohmad, didampingi hakim anggota Murdian Ekawati dan Wahyu Sudrajad secara terpisah. Vonis berbeda dijatuhkan lantaran peran masing-masing.
Hakim Sulistyanto Rohmad dalam persidangan menjelaskan, putusan 15 tahun kepada Arif Penyu sudah sesuai pertimbangan majelis hakim. Penusukan yang dilakukan oleh Arif melanggar pasal 338 KUHP.

Hal-hal yang memberatkan terdakwa, perbuatannya meresahkan masyarakat, terdakwa juga terbukti memprovokasi kericuhan. Terdakwa juga terbukti membunuh dengan mengambil pisau dari rumah dan menusukkan ke tubuh korban. ”Tidak ada hal-hal yang meringankan,” katanya.
Sementara saat membacakan putusan terhadap Yoga dan Hari, Sulistyanto Rohmad mengatakan, perbuatan mereka telah melanggar pasal 170 ayat 1 tentang kekerasan di muka umum. Hal-hal yang meringankan perbuatan dua terdakwa itu, adalah mereka belum pernah dihukum dan sopan saat persidangan.
”Adapun hal-hal yang memberatkan perbuatan mereka meresahkan masyarakat dan mereka sempat memprovokasi warga lain,” katanya.
Wiyantoro, ayah korban, mengaku tidak puas dengan ringannya hukuman pada Yoga dan Hari. Dia akan mengajukan banding terkait keputusan hakim.
”Saya tidak terima kalau dua terdakwa itu hanya dihukum tiga tahun. Seharusnya mereka dihukum dengan adil, minimal di bawah pelaku utama. Kami mau banding,” kata Wiyantoro usai persidangan kemarin.
Dia juga berniat menuntut penasihat hukum terdakwa, Muh Hari Arbani, Titik Ariyani, yang sempat menyebut adanya temuan serbuk kristal sebagai barang bukti selain motor dan kursi kayu. Hal itu disampaikan pengacara terdakwa saat membacakan nota pembelaan.
Sebelumnya, penasihat hukum terdakwa mengakui adanya kesalahan ketik terkait hal itu. ”Kami akan tuntut secara kode etik ke Perhimpunan Advokat Indonesia (Peradi). Kami tidak mau anak saya yang sudah jadi korban difitnah sedemikian rupa,” jelasnya.
Meski begitu, Wiyantoro mengaku puas dengan vonis yang diberikan majelis hakim kepada Arif Penyu. Menurut dia, vonis 15 tahun penjara, setimpal dengan perbuatan Arif.
”Kami berharap agar semua tersangka lain yang belum tersentuh, segera bisa disidangkan dan diproses secara hukum.”
Humas PN, Ali Sobirin menjelaskan, vonis lebih ringan dari tuntutan JPU terhadap Yoga dan Hari, didasarkan pada keterangan saksi ahli yang menyatakan bahwa korban meninggal akibat tusukan pisau.
Sementara, Hari dan Yoga terbukti melakukan kekerasan di muka umum. Sebelumnya, JPU ZK Bagus Catur Yuliawan menuntut kedua terdakwa dengan hukuman 8 tahun penjara.
”Namun, kekerasan yang dilakukan keduanya dalam otopsi tidak meninggalkan bekas memar dan semacamnya. Hal inilah yang membuat perbuatan keduanya tidak terbukti menyebabkan korban meninggal,” jelasnya.
Sementara itu, sidang kemarin sempat diwarnai ketegangan antara massa dari pihak korban. Diduga mereka marah karena ada pihak lain yang memprovokasi. Namun, tidak sempat timbul kerusuhan yang berkepanjangan, setelah aparat mendamaikan dan menghalau mereka.
Seperti diberitakan sebelumnya, peristiwa penusukan yang merenggut nyawa Gustian Sigit Prasetyo terjadi di arena pentas musik dalam rangka perayaan 17 Agustus dan halalbihalal di Ponalan, pada 24 Agustus 2013 malam lalu.
Korban dan terdakwa Arif alias Penyu, terlibat perkelahian hingga mengakibatkan penusukan. Selain itu, sempat terjadi aksi pemukulan terhadap korban oleh beberapa terdakwa lain. (vie/isk/ce1)