Kenalkan Eksotisme Tari Bali di Kota Atlas

121

Komunitas Giri Natha Balinese Dance

Sejumlah pemuda-pemudi keturunan Bali yang tinggal di Semarang tetap bisa mengeksplorasi eksotisme tari Bali. Mereka membentuk Komunitas Giri Natha Balinese Dance. Di sini, siapa pun bisa berlatih menari Bali. Seperti apa?

MIFTAHUL A’LA, Lempongsari

TARI Bali dikenal sangat eksotis. Siapa yang melihatnya, pasti akan terpukau. Gerakan yang lincah, kostum yang menarik, dipadukan dengan suara gamelan yang mengiringi, membuat tarian dari Pulau Dewata ini kian asyik untuk dinikmati.
Tak heran, jika tarian ini membuat masyarakat Bali merasa bangga. Termasuk warga keturunan Bali yang tinggal di Kota Semarang. Untuk lebih mengenalkan dan mempertahankan budaya tari Bali di Kota Atlas, sejumlah pemuda-pemudi keturunan Bali di Kota Semarang membentuk komunitas tari Bali. Namanya Komunitas Giri Natha Balinese Dance. Di komunitas ini, siapa pun yang tertarik mendalami tari Bali bisa bergabung.
”Ini sebagai upaya kami untuk tetap mempertahankan tari Bali. Awalnya, kami sesama warga keturunan Bali sering kumpul-kumpul, kemudian sepakat membentuk komunitas ini,” jelas Ketua Pemuda Bali di Kota Semarang, I Komang Dipta kepada Radar Semarang.
Dikatakan, komunitas ini resmi dibentuk baru pada 1 Mei lalu. Meski begitu, embrionya sudah ada sejak lama. Sebab, selama ini pemuda-pemudi keturunan Bali kerap berkumpul di Pura Agung Giri Natha Jalan Sumbing No 12 Semarang. Setiap kali bertemu, mereka membahas berbagai persoalan tentang tarian Bali. Nama Giri Natha sendiri diambil, karena mereka berlatih menari di kompleks pura tersebut. ”Dari situlah, ide membentuk komunitas muncul. Harapannya, agar ada wadah khusus bagi pencinta tari Bali,” katanya.
Berbagai kegiatan dilakukan dalam komunitas ini. Khususnya dalam mempelajari dan mengembangkan berbagai tarian khas Bali. Meski fokus ke tarian Bali, namun anggota komunitas ini tidak hanya warga keturunan Bali, tapi terbuka untuk umum. Siapa pun bisa bergabung. Tak mengenal ras, suku maupun agama. ”Kami terbuka untuk siapa saja. Boleh bergabung,” tandasnya.
Ni Made Martiniasih, salah satu anggota komunitas ini menambahkan, yang ingin berlatih menari Bali, bisa langsung mendaftar. Tinggal membawa pakaian latihan lengkap dan datang di Pura Agung Giri Natha. Komunitas ini rutin berlatih menari setiap Sabtu dan Minggu mulai pukul 13.00 sampai 16.00. ”Kita terbuka untuk semua orang. Setiap anggota hanya mengisi kas Rp 40 ribu per bulan,” kata Ni Made Martiniasih.
Pelatih tari di komunitas ini adalah Ni Komang Tri Paramityaningrum. Saat ini, seluruh anggota sedang mendalami Tari Puspawresti. Yakni, tarian yang dibawakan sekelompok penari pria dan wanita. Para penari wanita membawa bokor berisikan bunga yang warna-warni yang dikawal oleh penari pria yang membawa tombak.
Dijelaskan, tarian ini merupakan ciptaan bersama dari I Wayan Dibia (penata tari) dengan I Nyoman Windha (penata karawitan) pada 1981. ”Tarian ini menggambarkan sekelompok muda-mudi yang dengan penuh rasa hormat dan ramah tamah menyambut kedatangan para tamu yang berkunjung ke desa mereka,” jelasnya.
Ni Made mengatakan, tarian Bali tak hanya indah, namun menari Bali juga bisa melenturkan tubuh dan menjaga kesehatan. Diakui, Tari Bali cukup sulit pakem atau gerakan dasarnya. Namun jika sering berlatih pasti bisa. ”Rencananya, Komunitas Giri Natha Balinese Dance akan mengadakan pergelaran seni tari setahun sekali. Selain itu, kami juga akan ikut mengikuti setiap perlombaan tari,” katanya. (*/aro/ce1)

Tinggalkan Komentar: