Exit Tol Jatingaleh Diusulkan Ditutup

7

Jalur Searah Gombel
Dinilai Tak Efektif

NGESREP — Rekayasa lalu lintas satu arah di Jalan Setiabudi, Gombel Baru dinilai tidak efektif memecah kepadatan lalu lintas di kawasan Jatingaleh. Upaya tersebut justru hanya memindah titik kemacetan saja. Simpul kemacetan terjadi di dua titik, yakni titik selatan tepatnya di jalur u-turn depan Nasmoco ke arah Gombel Lama, dan titik utara di pertigaan Jalan Kesatrian.
Dari hasil evaluasi Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika (Dinhubkominfo) Jateng kemarin, rencananya arus lalu lintas akan dikembalikan seperti semua. Di mana kendaraan dari exit tol boleh langsung ke arah kota (Semarang bawah). Tidak harus memutar melalui Gombel Lama. Hal tersebut diungkapkan Kepala Bidang Lalu Lintas dan Kelaikan Kendaraan Dishubkominfo Jateng Henggar Budi Anggoro saat memantau arus lalu lintas di kawasan Jatingaleh, kemarin (14/5).
”Pergerakan secara menyeluruh kalau kondisi sore sudah jelas bahwa titik permasalahan ada di sebelah utara jalan tol. Sedangkan saat pagi permasalahan ada di ujung sebelah selatan. Karena kendaraan dari exit tol harus ke kiri dan berputar di Gombel Lama, sehingga di sana menimbulkan penyempitan jalan,” terangnya kepada Radar Semarang.
Setelah diberlakukan kebijakan atau rekayasa lalu lintas sesuai keinginan Gubernur Jateng Ganjar Pranowo, kepadatan lalu lintas saat pagi mencapai 2 kilometer. ”Bukan macet berhenti, tapi merayap hingga 2 kilometer. Sementara kalau sore kepadatan terjadi di arus Kaliwiru,” ujarnya.
”Permasalahan (kepadatan arus lalu lintas) ini kalau kita petakan, dari hasil evaluasi sementara, permasalahan ada di exit tol. Mau masuk kota harus muter ke Gombel Lama dulu. Sore hari juga banyak kendaraan keluar dari PLN (Jalan Karangrejo) dan harus muter. Sore ini (kemarin) kita akan perlebar satu median di sebelah utara jalan tol. Jadi, tidak ada crossing dengan kendaraan lurus,” jelasnya.
Dia mengakui, jika rekayasa arus lalu lintas ini bukan penyelesaian jangka panjang tapi sementara. Penguraian kemacetan di kawasan Jatingaleh tetap dilakukan melalui proyek pembangunan underpass.
”Kalau yang dilakukan saat ini sifatnya hanya mengurai kepadatan. Rencana kita lakukan tiga hari (sejak Selasa), tapi pagi ini (kemarin) polanya sudah kelihatan. Jadi, kita akan kembalikan seperti semula lagi (kendaraan dari exit tol tak harus berputar ke Jalan Gombel Lama, Red),” katanya.
Hal itu dilakukan untuk mengantisipasi kepadatan arus lalu lintas jelang hari libur. Menurutnya, kepadatan arus kendaraan akan meningkat ketika hari libur. Melihat hari biasa kepadatan di sisi selatan dan utara sangat tinggi, maka pihaknya berencana mengembalikan arus lalu lintas seperti sebelumnya.
”Kita kembalikan seperti kemarin, kemudian kita akan rapatkan lagi untuk mengambil keputusan alternatif terbaik. Kalau memang kebijakan yang ini bisa mengurangi kendaraan yang keluar dari tol dengan pembatasan tonase, maka akan kita lakukan. Tapi, kalau perhitungan itu tidak mungkin, kita koordinasi dengan pihak tol (Jasa Marga) agar kendaraan keluarnya tidak di sini (Jatingaleh). Karena ini demi kepentingan yang lebih luas,” ujarnya.
Menurutnya, koordinasi dengan pihak Jasa Marga agar mengeluarkan kebijakan kendaraan dilarang exit di Jatingaleh alias menutup exit tol Jatingaleh merupakan jalan yang terbaik, mengingat semua rekayasa untuk mengurai kepadatan arus lalu lintas di Jatingaleh sudah tidak mungkin dilakukan lagi. ”Tidak mungkin lagi ini direkayasakan lalu lintas. Karena semua sudah kita coba. Pagi sebelah selatan, sore di sebelah utara kemacetannya. Kalau dipaksakan seperti ini harus ada pelebaran u-turn di utara dan selatan,” tandasnya.
Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi menyampaikan, dari evaluasi hari pertama uji coba pemberlakuan jalur searah, titik kemacetan diakui sedikit berpindah ke atas. Tetapi, ia merasa di belokan depan Nasmoco itu masih belum sampai menimbulkan sebuah kemacetan. Hanya kendaraan diakui memang menjadi lebih padat. ”Saya rasa masih belum menimbulkan sebuah kemacetan, tapi terjadi lebih padat ya, nah kita coba selama dua minggu ini mudah-mudahan ada hasil yang terbaik,” kata Hendrar Prihadi.
Menurut wali kota yang akrab disapa Hendi ini, nanti akan ada evaluasi lagi untuk uji coba jalur searah hari kedua. Apa yang harus dilengkapi dan tidak pas, akan coba ditindaklanjuti. Ia merasa jalur searah ini perlu dipertahankan. Untuk sarana dan prasarana (sarpras) serta rambu-rambu lalu lintas yang masih dibutuhkan, bisa dilengkapi. ”Saya rasa bisa dipertahankan, kalau nanti dari evaluasi ada yang harus kita lengkapi, kita tambahi (sarprasnya), atau jika ada yang tidak pas,” ujarnya.
Sementara untuk pembangunan underpass (jalan bawah tanah), menurut Hendi, akan terus dilanjutkan. Tahun ini pembebasan lahan akan selesai, kemudian tahun depan sudah mulai pembangunan fisiknya oleh Kementerian Pekerjaan Umum. Jalur searah adalah upaya jangka pendek mengurai kemacetan di Jatingaleh, sedangkan underpass ini adalah upaya untuk jangka panjangnya.
Kepala Dishubkominfo Kota Semarang Agus Harmunanto yang turut dalam pantauan arus lalu lintas kemarin mengatakan, pihaknya masih menunggu hasil evaluasi uji coba rekayasa lalu lintas dari pihak Jateng. ”Kita evaluasi bagaimana solusinya. Kita kembalikan seperti semula sambil evaluasi apakah uji coba ini bisa dilanjutkan atau tidak. Jika memang kebijakannya tetap dilanjutkan, kita akan siapkan rambu-rambu dan harus ada pelebaran jalan (u-turn) di dua titik, yakni depan Nasmoco dan pertigaan Kesatrian. Tapi, dari hasil uji coba dua hari ini (kemarin) sepertinya akan dikembalikan dulu seperti semula,” katanya.
Kasatlantas Polrestabes Semarang AKBP Windro Akbar saat uji coba hari kedua kemarin terjadi penumpukan kendaraan di Jalan Setiabudi, tepatnya di depan SPBU Gombel. Pasalnya, di titik crossing tersebut, kendaraan dari arah atas (Banyumanik) menuju Gombel Lama terhalang oleh banyak mobil dari arah bawah yang belok ke kanan menuju Gombel Lama. Akibatnya, antrean kendaraan dari arah Banyumanik macet hingga traffic light Patung Diponegoro, Ngesrep. ”Kalau di bawah (Jatingaleh) itu tidak mengalami masalah, tetapi yang menjadi masalah yang berada di atas (Jalan Setiabudi),” ujarnya.
Berbeda dengan Agus Harmunanto, Windro justru memastikan uji coba jalur searah yang berakhir Kamis hari ini akan diperpanjang hingga Senin (19/5) mendatang. ”Pada hari Senin dipastikan akan terjadi lonjakan arus lalu lintas sehingga akan diketahui titik kroditnya di mana,” katanya.
Setelah dilakukan uji coba ini, kata dia, akan dilanjutkan evaluasi. Jika hasil evaluasi bagus, rekayasa lalu lintas ini akan dipermanenkan. Namun sebelum dilakukan penetapan akan dilakukan perbaikan di wilayah Gombel Lama. ”Sebelum dipermanenkan ada sejumlah titik di Gombel Lama yang akan dilakukan perbaikan. Sebab kalau tidak, akan membahayakan pengendara,” ujarnya
Di Jalan Gombel Lama, menurutnya, kondisi permukaan aspalnya masih bergelombang. Selain itu, di kanan-kiri dipastikan tidak ada mobil yang parkir. ”Masih banyak yang harus dibenahi di Jalan Gombel Lama,” cetusnya.
Tak hanya perbaikan jalan, tapi juga masalah penerangan yang kurang terang, serta perlu dipasang pembatas jalan. Sebab, jika tidak dipasang pembatas, pengendara mobil dan motor dikhawatirkan bisa masuk jurang. ”Perlu ada pembatas jalan yang harus dipasang agar tidak membahayakan pengguna jalan. Dan, yang paling penting lagi penerangan jalan di sepanjang Gombel Lama,” katanya.
Salah seorang warga Gombel Lama, Solekhan, 45, mengaku, sebagai warga agak terganggu dengan arus kendaraan di daerahnya yang mulai padat. Karena jalan menjadi sempit. Apalagi di daerahnya banyak anak-anak sekolah.
”Kalau pemerintah mau menjalankan kebijakan arus lalu lintas ini, ya harus didukung infrastruktur yang memadai. Jalan dilebarkan dan ada penyeberangan. Karena di sini banyak anak-anak sekolah. Selain itu, katanya juga ada kebijakan dilarang parkir. Kalau seperti itu ya kasihan warung-warung yang ada di sini jadi tidak laku,” keluhnya. (zal/hid/aro/ce1)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here