NONGKOSAWIT – Ribuan warga di Kelurahan Nongkosawit Kecamatan Gunung Pati, Semarang, Kamis (15/5) sore melakukan ritual Nyadran Kubur di makam Sipule. Konon, di makam ini bersemayam Pangeran Harto Gumelar yang diyakini warga setempat sebagai penyebar agama Islam dari kerajaan Majapahit di daerah lereng Gunung Ungaran.
Prosesi diisi dengan kegiatan membersihkan makam, pengajian, proses Lungtinampen sebuah bende yang diyakini sebagai peninggalan Kiai Wali Kartona. Ribuan warga tampak riang ketika mengarak gunungan hasil bumi sebagai simbol persembahan rasa syukur kepada Tuhan.
Setelah diarak, bende kemudian disucikan di masjid yang ada di tengah kampung. Ritual ini rutin dilakukan warga setiap Kamis Wage bulan Rajab atau sebelum memasuki bulan puasa. Saat ini nyadran menjadi salah satu daya tarik wisata di Desa Wisata Nongkosawit.
Sesepuh kampung Karsidi Nur Hasan mengatakan, bende yang dikirab dan disucikan dulunya berfungsi untuk media komunikasi bagi lurah untuk mengumpulkan warga. ”Entah itu untuk berdoa bersama kepada Tuhan ataupun mengumpulkan warga untuk perang,” jelasnya.
Ketua Panitia Kegiatan Swarsono menambahkan, kegiatan ini sebagai bentuk menjaga eksistensi desa wisata Nongkosawit dan rutin digelar setiap tahun. ”Desa ini akan dijadikan desa wisata, sebagai penyokong waduk Jatibarang dan tentunya sebagai kalender event tahunan desa wisata ini,” ungkapnya.
Lebih lanjut diterangkan, gunungan yang diarak akhirnya diperebutkan warga sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan. ”Gunungan itu diibaratkan srumbung yang menjaga mata air, jadi bentuk rasa syukurnya mengaraknya keliling kampung,” jelasnya. (den/ton/ce1)