Bawa Bayi ke Ruang Ujian, Kerjakan Soal sambil Berdiri

91

Perjuangan Ibu-Ibu Mengejar Lulus Ujian Kesetaraan Kejar Paket B


Semangat dan kegigihan peserta ujian nasional program kesetaraan (UNPK) kejar paket B di Klaten beberapa waktu lalu patut diacungi jempol. Mereka yang ikut tidak hanya usia sekolah, namun banyak yang sudah parobaya dan ibu rumah tangga. Bagaimana perjuangan mereka?


BOY ROHMANTO, Klaten

SUARA tangis bayi terdengar dari salah satu ruang SMP Muhammadiyah 1 Klaten, lokasi yang menjadi tempat penyelenggaraan UNPK Kejar Paket B. Begitu masuk ke ruang ujian, pandangan koran ini langsung tertuju pada barisan kursi bagian belakang dan di depannya. Di atas kursi, duduk tiga ibu yang sedang menggendong anak usia bawah lima tahun (balita).
Saat anak mereka rewel, ibu-ibu ini tidak canggung untuk mengerjakan soal dengan berdiri. Sesekali suara mengajak anak bercanda keluar dari mulut ibu-ibu tersebut. Kondisi ini memang membuat suasana ruangan tidak dapat tenang, namun tidak sampai mengganggu peserta UNPK lain.
Tiga orang ibu yang menggendong bayi ke ruang ujian ini hanya sebagian dari belasan ibu yang mengajak anak mereka datang ke lokasi ujian. Hal tersebut dilakukan karena jika ditinggal di rumah anak-anak menangis. Namun, kondisi inilah yang mengganggu konsentrasi ibu dalam mengerjakan soal ujian.
“Agak repot Mas, mengerjakan soal sambil menggendong anak. Tapi kalau tidak seperti ini, kami tidak akan lulus ujian. Padahal sudah menempuh belajar dan persiapan,” ujar Darmi, peserta ujian asal Desa Krakitan Kecamatan Bayat.
Saat ujian kejar paket B kemarin, dia menggendong anak keduanya Sintia yang masih berumur dua tahun. Meski menggendong si kecil, namun wanita berjilbab ini mampu mengerjakan soal sebelum waktu yang ditentukan habis. Sehingga saat teman-teman satu ruangan selesai dia sudah dapat bercanda dengan anaknya di luar ruang ujian.
Bagi Darmi, ujian kejar paket B tidak hanya sekedar mendapat ijazah kelulusan. Namun dia memaknai bahwa saat ada kesempatan belajar, maka sebisa mungkin digunakan agar ilmu yang diperoleh dapat bermanfaat untuk mendidik anak.
“Saya saat belum berkeluarga memang menyia-nyiakan kesempatan untuk sekolah. Alhamdulillah meski sudah punya anak tetap bisa belajar,” ungkap wanita kelahiran 11 Desember 1985 ini.
Di Klaten, ada 139 peserta yang ikut UNPK di SMP Muhammadiyah 1 Klaten. Hampir semua peserta yang terdaftar hadir untuk mengerjakan soal ujian, tidak hanya datang satu persatu peserta rela menyewa mobil untuk dapat datang bersama-sama ke lokasi ujian.
“Saya sangat mengapresisasi dan kagum dengan semangat ibu-ibu ini. Mereka rela meluangkan waktu untuk belajar, meski harus menggendong anak tetap ikut ujian,” ujar Kabid Pendidikan Non Formal (PNF) Liestyowati. (*)