Bagaimana Memahami Hubungan Ayat-Ayat Alquran?

169

Pertanyaan:
Assalamu’alaikum Wr Wb Bapak Kiai Ahmad Izzudin di Radar Semarang yang saya hormati dan dirahmati Allah SWT. Bagaimana memahami hubungan satu ayat Alquran dengan ayat lainnya? Sebagai contoh, surah al-Qashash ayat 77 memerintahkan kita untuk mencari kebahagiaan ukhrawi tanpa melupakan dunia. Apakah ini adalah lanjutan ucapan orang Mukmin dari kaum Musa yang ditujukan pada Qarun yang melupakan akhiratnya, atau komentar Allah yang ditujukan kepada setiap orang tentang melupakan dunia atau melakukan perusakan di dunia? Atau, apakah ayat itu ditujukan kepada Nabi Muhammad SAW yang amat mementingkan akhiratnya sehingga melupakan dunia? Demikian pertanyaan saya Bapak Kiai, mohon penjelasan dan jawaban Bapak Kiai, terima kasih.
Wassalamu’alaikum Wr Wb
Abdul Rohmad, Pedurungan (085640246xxx)

Jawaban:
Wa’alaikum salam Wr Wb Bapak Abdul Rohmad di Pedurungan yang saya hormati dan juga dirahmati Allah SWT. Sebelumnya saya ucapkan terima kasih atas pertanyaannya. Ayat-ayat Alquran berhubungan satu sama lain dalam hubungan yang sangat serasi. Hanya saja, menetapkan hubungan itu merupakan ijtihad atau hasil penalaran dan pemahaman masing-masing ulama tafsir, sehingga tidak jarang terjadi perbedaan pendapat. Para ulama tafsir biasanya enggan menjadikan lawan bicara atau objek pembicaraan sebelumnya, kecuali ada indikator yang kuat untuk itu.
Namun, sebagian ulama juga berpandangan bahwa salah satu sebab yang dapat menghubungkan ayat satu dengan yang lainnya adalah kondisi sewaktu ayat itu turun. Salah satunya yang dikemukakan oleh sebagian ulama adalah firman Allah dalam surat al-Qiyamah yang berbicara tentang hari kiamat. Ketika surat itu turun sampai dengan ayat 15, Nabi SAW membaca ulang apa yang telah disampaikan malaikat Jibril kepada beliau, sebelum rampung disampaikan. Lalu, turun kepada beliau ayat 16-19: Janganlah kamu gerakkan lidahmu untuk (membaca) Alquran karena hendak cepat-cepat (menguasainya). Sesungguhnya atas tanggungan kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatnya pandai) membacanya. Jika kami telah selesai membacakannya (melalui Jibril), maka ikutilah bacaan itu. Kemudian sesungguhnya atas tanggungan kamilah penjelasannya (QS. Al-Qiyamah [75]: 16-19). Setelah ayat-ayat itu, barulah kemudian dilanjutkan dengan uraian tentang kiamat pada ayat 20 yang diuraikan sejak pertama ayat tersebut.
Adapun dalam ayat 77 surah al-Qashash yang berbunyi: ”Dan carilah melalui anugerah Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) dunia”. Memang sebaiknya dipahami sebagai ucapan orang-orang Mukmin kepada Qarun. Ini dimaksudkan untuk menjadikan lawan dan objek pembicaraan dalam ayat sebelum dan sesudahnya lebih terlihat serasi. Namun, kalau ada pertimbangan lain dari ulama tafsir (mufassir), bisa saja lawan bicara di sana tidak dipahaminya sebagai Qarun.
Di dalam kitab Tafsir Majma’ al-Bayan karya Abu Ali ath-Thabarsi (w. 502 H), dikemukakan bahwa pendapat ayat 77 dalam surat al-Qashash itu ditujukan kepada Nabi Muhammad SAW apalagi dengan alasan ada gereja yang menunjukkan bahwa nabi mengabaikan kebahagiaan duniawi. Sebab, perintah melakukan sesuatu tidaklah bahwa yang bersangkutan belum melaksanakannya dan sebaliknya dalam hal pelarangan. Bukankah Rasulullah SAW diperintahkan untuk membersihkan pakaian beliau dan meninggalkan perbuatan dosa (QS. Al-Muddatstsir [74]: 4-5). Perintah ini tidak berarti pakaian beliau kotor. Akan tetapi, perintah itu dimaksudkan untuk mempertahankan dan meningkatkan apa yang beliau lakukan selama ini dengan kebersihan pakaian dan upaya meninggalkan segala macam dosa. Hal ini sama dengan perintah Allah: Wahai orang-orang beriman, berimanlah kepada Allah, dan Rasul-Nya… (QS. An-Nisa [4]: 136). Demikian jawaban dan penjelasan singkat dari saya, semoga bermanfaat dan barakah. Amin. Wallahu ’alam bishshowab. (*/ton/ce1)