Sebabkan Polusi, Pabrik Bata Diprotes Warga

264

UNGARAN- Warga Perumnas Mapagan RT 6 dan RT 7 di RW 9, Desa Lerep, Ungaran Barat, memrotes keberadaan pabrik bata milik Kaswanto, 54, di Dusun Kretek RT 6 RW 8, Desa Lerep Ungaran Barat. Sebab aktivitas pembakaran bata menimbulkan polusi udara yang membuat warga sesak nafas. Warga meminta Pemerintah Kabupaten Semarang bertindak tegas menghentikan aktivitas pabrik bata tersebut. Apalagi pemilik pabrik tidak mengantongi izin lengkap.
Salah seorang warga Perumnas Mapagan RT 6 RW 9, Desa Lerep, Ungaran Barang, Winarno, 55, mengatakan, sekitar dua hari lalu warga terganggu polusi udara berupa asap dari pabrik. Tidak sedikit warga yang mengalami sesak nafas karena asap dari pembakaran bata.
“Semestinya pembuatan bata harus mengurus perizinan dulu, sehingga nantinya tahu apakah di lokasi itu layak untuk produksi. Jangan sampai, belum ada izin tapi aktivitasnya berjalan,” kata Winarno saat ditemui di lokasi pembakaran bata tersebut.
Warga lainnya, Yudhi Ashudi, 56, Warga Perumnas Mapagan, RT 7 RW 9, Desa Lerep, Ungaran Barat juga merasa terganggu sehingga meminta Pemkab Semarang bertindak tegas. Apalagi produksi bata tersebut akan dilakukan selama dua tahun dengan alasan menghabiskan tanah di lokasi tersebut. 

“Kalau saya minta Satpol PP tegas menghentikan aktivitas tersebut, sebab tidak ada izinnya. Selain itu aktivitas produksi bata tersebut sangat menganggu kesehatan masyarakat,” tandasnya. 

Ditambahkan Ketua RT 7 RW 9, Perumnas Mapagan, Riwanto, 56, banyak warga utamanya anak-anak dan bayi tidak bisa tidur karena sesak nafas saat ada proses pembakaran bata. Lalu warga menyampaikan keluhan tersebut pada pertemuan RT agar segera bertindak.
“Memang muncul permasalahan ini, warga berharap tidak lagi terganggu polusi asap dari produksi bata. Paling tidak pelaku usaha melakukan langkah pengelolaan dengan baik,” ujar Riwanto.
Pantauan Radar Semarang di lokasi pembuatan bata, asap memang mengepul tebal. Apalagi proses pembakaran memakan waktu lama, sebab jumlah bata yang dibakar mencapai ribuan.
Sementara itu pemilik pabrik bata, Kaswanto mengatakan, pihaknya sudah meminta izin Kades Lerep dan diizinkan asal tidak selamanya membuat bata di sana. Kaswanto mengatakan, pembuatan bata itu dilakukan hanya untuk meratakan tanah yang miring. Hingga saat ini Kaswanto baru 2 kali membakar bata.
“Sebenarnya saya sudah diizinkan sama Pak Kades. Pembuatan bata di sini hanya sementara saja. Cuma untuk menghabiskan tanah di lahan saya agar rata. Daripada dibuang tanah itu dibuat bata. Diperkirakan tanah ini baru bisa habis sekitar dua tahun,” kata Kaswanto.
Kaswanto menyadari pembuatan bata itu akan menuai protes warga. Ia langsung memasang terpal dan membuka atap untuk mencegah asap menyebar ke rumah penduduk. “Sekarang sudah saya pasangi terpal. Rencana atap akan saya buka sehingga asap tidak menyebar ke penduduk tapi ke atas di udara bebas,” imbuhnya. (tyo/ton)