MAGELANG– Rangkaian Hari Raya Tri Suci Waisak 2558 BE/2014 dimulai dengan penyemayaman api abadi Mrapen, Grobogan Kabupaten Purwodadi dan air suci dari Umbul Jumprit Kabupaten Temanggung di Candi Mendut Kabupaten Magelang, kemarin (13/5) petang. Ratusan biksu dari sembilan sangha mengiringi prosesi ini.       
Api abadi dan air suci datang bersamaan sekitar pukul 15.30 sore. Kemudian para biksu dari sembilan sangha bergantian membaca paritta suci di altar Candi Mendut.
Hujan deras dan angin kencang berlangsung selama prosesi. Namun ritual suci yang diikuti ribuan ummat dari 20 negara ini tetap berjalan hikmat.
”Air adalah penunjang kehidupan, air memiliki peranan penting dalam spiritualitas, air dianggap dapat menyucikan diri dan dosa, dan membawa berkah,” kata Plt. Ketua Umum Perwakilan Umat Buddha Indonesia (Walubi), Aris Harsono, di sela-sela acara.     
Menurutnya, air juga merupakan lambang kedamaian, oleh karena itu air digunakan sebagai sarana puja bakti untuk kedamaian hati. Air juga memberikan kesejukan bagi kehidupan manusia.     
“Merawat mata air sama dengan merawat kehidupan, karenanya kawasan sekitarnya menjadi subur dan sejuk,” katanya.     
Selain itu, api darma yang diambil dari Api Abadi Mrapen memancarkan cahaya kehidupan, melambangkan kekuatan yang menerangi hati manusia.     
“Air dan api merupakan sarana puja bakti yang memiliki keunggulan masing-masing untuk lebih mendekatkan diri pada Sang Buddha dan untuk meneladani sikap Sang Guru dan diwujudkan dalam perilaku setiap hari,” katanya.     
Ketua DPD Walubi Jateng David Herman Jaya mengatakan, dalam kesempatan itu, seluruh umat Buddha secara bersama-sama, berdoa untuk keselamatan dan kedamaian seluruh umat. Termasuk kesejahteraan bangsa dan negara Indonesia serta untuk perdamaian dunia.     
Setelah air suci dan api abadi disemayamkan di Candi Mendut, hari ini (14/5) akan diarak menuju Candi Agung Borobudur. Dis ana digelar prosesi puncak yang akan dihadiri Wapres Boediono.     
Detik-detik waisak akan berlangsung pada pukul 02.15.37 dini hari Kamis (15/5).
Sebelumnya, ratusan biksu tersebut melakukan puja bakti pengambilan air berkah Waisak 2558 BE/2014 di Umbul Jumprit, kawasan Wanawisata Jumprit, Desa Tegalrejo, Kecamatan Ngadirejo, Temanggung. Air berkah yang telah diambil dari mata air di Lereng Gunung Sindoro ini selanjutnya akan disemayamkan bersama api abadi Mrapen di Candi Mendut sebelum digunakan untuk perayaan detik-detik Waisak.
Mantan Direktur Jenderal (Dirjen) Bimas Buddha Kementerian Agama, Agustinus Joko Wuryanto yang menjadi menjadi salah satu penata acara pada sesi terakhir pengambilan air berkah diikuti oleh puluhan biksu dari 20 negara. Puja bakti diawali dengan menyalakan lilin lima warna di sebuah altar, dilanjutkan puja bakti oleh majelis-majelis agama Buddha, setelah itu para biksu mengabil air dari Umbul Jumprit dengan menggunakan kendi. 
Ketua panitia pengambilan air berkah Waisak, Martinus Nata, mengatakan, mengawali pengambilan air berkah di Umbul Jumprit dilakukan kerja bakti di lokasi Umbul Jumprit sejak 5 Mei 2014 dan pada 10-11 Mei 2014 dilakukan pengisian botol air berkah sebanyak 12.000 botol. Ketua Umum Panitia Waisak Nasional, S. Hartati Murdaya dalam sambutan tertulis yang disampaikan Karuna Murdaya, mengatakan,  seperti biasanya umat Buddha merayakan Waisak di Candi Mendut dan Borobudur dengan diawali pengambilan air Waisak di Umbul Jumprit kemudian dibawa ke Candi Mendut di Magelang untuk disemayamkan dan disakralkan.
Ia mengatakan, tema Waisak 2558 tahun 2014 adalah “Kembangkan Brahmavihara untuk Kebahagiaan Semua Manusia” dan subtemanya “Senantiasa Berpandangan Terang dan Pikiran Luhur”.
Ia menuturkan, mata air Umbul Jumprit merupakan tempat yang disucikan umat Buddha Indonesia. Tradisi umat Buddha menggunakan air sebagai sarana peribadatan, diawali oleh Sang Buddha Gotama ketika memasuki kota Vesali yang sedang dilanda wabah penyakit berat dan aneh sehingga banyak sekali orang yang meninggal dan juga diramaikan oleh setan-setan gentayangan. (vie/zah/lis)