MANYARAN – Sidang dugaan korupsi kredit fiktif Bank Jateng Cabang Semarang tahun 2012, dengan terdakwa mantan analis kredit Bank Jateng, Narto, kemarin, kembali digelar di Pengadilan Tipikor Semarang.
Sidang perkara atas pengajuan kredit dari empat perusahaan yang diajukan Yanuelva Etliana (buron terpidana kasus Bank Jateng) tersebut, menghadirkan ahli dari Laboratorium Forensik Mabes Polri Cabang Semarang, Budi Santoso.
Dalam keterangan, Budi menyatakan bahwa dia diminta oleh penyidik untuk memeriksa keaslian dokumen yang disertakan untuk meloloskan kredit fiktif yang diajukan Yanuelva.
”Dari 40 dokumen yang diperiksa, diketahui memiliki tanda tangan identik. Namun, dari cap stempel, tidak identik,” ungkapnya di hadapan majelis hakim yang diketuai Jhon Halasan Butar-Butar.
Budi menambahkan, ilmu yang digunakan untuk melakukan pemeriksaan, menggunakan ilmu graphonomy. Yaitu menganalisis tulisan melalui ciri-ciri umum dan khusus. ”Tingkat akurasinya sempurna, karena juga dipakai di berbagai negara.”
Seperti diketahui, kasus ini merupakan perkara kedua yang dijalani terdakwa. Sebelumnya, Narto juga didakwa meloloskan kredit fiktif yang diajukan Yanuelva Eltina. Tetapi, perusahaan yang dipakai untuk pengajuan kredit itu berbeda dengan perkara sebelumnya. Kali ini, ada empat perusahaan. Jaminannya juga berbeda. Sebelumnya, pada Juli 2012 lalu, dia dijatuhi hukuman lima tahun penjara oleh Pengadilan Tipikor Semarang.
Dalam perkara tersebut, Narto dinilai tidak melakukan analisis kredit dengan benar. Yakni, tidak melakukan check on the spot atas dokumen jaminan dan lokasi jaminan. Akibatnya, 12 permohonan kredit senilai Rp 4,7 miliar itu cair dan diterima pemohon kredit (Yanuelva) melalui beberapa perusahaan pinjaman.
Padahal, jaminan yang digunakan Yanuelva adalah Surat Perintah Pekerjaan (SPP) dan Surat Perintah Mulai Kerja (SPMK) dari Badan Pengendalian Bencana Daerah (BPBD) Jateng, Dinas Cipkataru, Badan Perizinan dan Pelayanan Terpadu (BPPT) Kota Semarang. Seluruh SPP dan SPMK tersebut fiktif, tidak memuat proyek pengerjaan dan tak memiliki anggaran.(fai/isk/ce1)