KARANG TEMPEL – Tidak semua siswa SMP yang terdaftar sebagai peserta ujian nasional (unas) susulan memanfaatkan kesempatan yang ada. Dari 12 siswa yang harusnya mengikuti unas susulan hari pertama, hanya 10 yang hadir di SMPN 2 Semarang, Senin (12/5).
“Satu siswa mengerjakan di ruang khusus lantaran tidak bisa menaiki tangga. Sementara sembilan siswa mengerjakan di ruang multimedia sekolah. Namun begitu, kami tetap memfasilitasi dengan menyediakan ruangan khusus dan pengawas sendiri,” kata Kepala Bagian Tata Usaha Wuryanto mewakili Kepala SMPN 2 Teguh Waluyo.
Denny Sugiarto, salah satu peserta yang terpaksa berada di ruang khusus lantaran patah kaki mengaku terbebani lantaran mengikuti ujian susulan. “Beban juga karena saat teman lain ujian, saya malah belum unas sendiri. Selain itu, karena tidak bisa naik tangga akibat kaki patah tulang saat bermain basket, saya harus mengerjakan unas di ruang terpisah,” keluh siswa kelas IX SMP Maria Mediatrix saat datang bersama pihak sekolah dan orang tua.
Ketua Unas Kota Semarang Sutarto mengatakan, naskah soal setiap hari didistribusikan oleh petugas Disdik, sementara pengawas ujian berasal dari guru SMPN 2 Semarang. Peserta unas susulan secara keseluruhan sebanyak 19 siswa. “Mapel yang dikerjakan hanya mapel yang dia tidak ikut waktu unas utama. Tercatat, ujian susulan Bahasa Indonesia diikuti 12 siswa, ujian matematika 8 siswa, ujian Bahasa Inggris dan IPA masing-masing 12 siswa,” katanya.
Ia menjelaskan, jika ada siswa tidak mengikuti ujian susulan ataupun utama, maka dipastikan ia tidak akan lulus. Namun, siswa masih bisa mengikuti ujian kejar paket gelombang II yang rencananya akan digelar setelah pengumuman hasil unas. “Pada hari pertama unas susulan ada dua yang tidak masuk. Satu dari SMPN 36 karena mengundurkan diri dan mengerjakan unas di kota lain dan dari SMP Muhammadiyah 08, anaknya sampai sekarang dihubungi tidak bisa,” jelasnya. (den/ton/ce1)