Meniru Busana PSK, Matang sebelum Waktunya

171

SEKITAR 200 anak usia TK hingga SMA yang tinggal di lokalisasi Sunan Kuning, 40 persen di antaranya, sudah matang sebelum waktunya. Artinya, meski usia mereka masih relatif sangat muda, namun soal perilaku, semua meniru pengunjung maupun penghuni di lokalisasi. Baik dari cari bicara, cara bergaul, sampai cara berpakaian.
Hal itu disampaikan oleh Koordinator Lapangan Griya Asa PKBI Semarang, Ari Istiyadi. Ari berpendapat, anak-anak yang tinggal di kawasan lokalisasi, memiliki problem yang rumit dan banyak.
Salah satu langkah antisipasi dan upaya pencegahan, kata Ari, pihaknya terus mengedepankan pendidikan agama maupun pendidikan umum. Dalam praktiknya, dua cara itu dinilai efektif. Yaitu, sebagai langkah agar anak-anak bisa tetap bertahan dengan dunianya sendiri.
Mereka diharapkan tak terkontaminasi maupun meniru perilaku dan keseharian para pengunjung dan penghuni lokalisasi.
“Selama ini, kami berusaha untuk membekali anak-anak di sekitar lokalisasi dengan agama. Belum cukup memang, tapi minimal ini sebagai langkah pencegahan awal.”
Ari Istiyadi mengaku sudah beberapa tahun terakhir fokus berkecimpung mengamati berbagai persoalan di dunia lokalisasi. Penelitian dengan objek anak-anak yang tinggal di lokalisasi, kata Ari, mereka cenderung berbeda, dibandingkan anak-anak seusianya. Mereka lebih kasar, sering berbicara kotor, dan gaya pakaian yang serba minim.
Anak-anak, meski kecil, cenderung meniru perilaku PSK maupun pendatang di lokalisasi.  “Bayangkan anak usia TK sampai SD, mestinya pukul 00.00 sudah istirahat, tapi di kawasan lokalisasi, justru anak-anak kecil masih melek dan keluyuran,” ucapnya.
Ari mengakui, tak mudah untuk memberikan pendidikan anak di kawasan lokalisasi. Cukup beralasan. Selain dana minim, pendampingan tidak dilakukan setiap hari. Padahal, anak-anak selalu merekam semua hal, baik yang didengar maupun dilihat dalam kesehariannya.
“Ya, ini terjadi karena ada pembiaran, sehingga anak-anak meniru semua aktivitas di lingkungan sekitar. Jadi, jangan kaget jika melihat anak kecil di sekitar lokalisasi, sudah bergaya bak orang dewasa.”
Selama ini, Ari menilai, pemerintah tidak pernah memperhatikan kondisi anak-anak di kawasan lokalisasi. Buktinya, dari beberapa program, Pemkot Semarang lebih menyasar kepada para PSK.
Terkesan, ada pembiaran kepada anak-anak di lokalisasi yang kian hari cenderung agresif dan matang sebelum waktunya.
Padahal, anak-anak merupakan aset besar untuk masa depan. “Mestinya harus seimbang penanganannya. Bagaimanapun juga, anak-anak di sekitar lokalisasi membutuhkan perhatian. Agar mereka bisa menikmati masa anak-anak sesuai usianya.” (fth/isk)

Tinggalkan Komentar: