Lahir di Malaysia, Tekuni Dunia Tari Sejak Usia Lima Tahun

133

Tunku Atiah, Trah Mangkunegaran yang Tertarik Tari Kontemporer

Menjadi trah Mangkunegaran, tak lantas terpaku dengan pakem budaya tradisi. Seperti yang dilakukan Tunku Atiah, ini. Dia memberanikan diri mengekspresikan sebuah tari kontemporer.

EDY WIDODO, Solo
MENGENAKAN T-shirt putih ketat tanpa lengan, dipadu celana panjang semilegging warna hitam, membuat penampilan Tunku Atiah terkesan sederhana. Apalagi riasan wajahnya juga tak terlalu mencolok. Hanya sapuan lipstik berwarna merah marun yang membuat bibirnya makin merekah.
Penampilan seperti itulah yang justru membuat pemilik nama lengkap Tunku Kurshiah binti Tunku Abu Bakar ini terlihat cantik dan terkesan natural. Bagi sebagian besar masyarakat Solo dan sekitarnya, mungkin sedikit asing dengan alumnus Lasalle College of The Arts Singapura, ini.
Terlebih dia dilahirkan dan dibesarkan di Johor Bahru, Malaysia. Tapi, sejak usia lima tahun, Atiah mulai menari di Pura Mangkunegaran, Solo. Sudah pasti masyarakat Solo akan menduga bahwa Atiah masih ada keturunan trah Mangkunegara. Ya, dialah puteri dari GRAy Retno Astrini – yang tak lain adalah puteri KGPAA Mangkunegara VIII.
”Lewat tari kontemporer saya bisa mengekspresikan diri dan punya gaya sendiri. Bahkan tidak ada pakem tertentu pada gerakan kaki atau tangan seperti pada tari tradisional. Termasuk tari Jawa,” papar Tunku, di sela penobatan dirinya sebagai maskot Solo International Performing Arts (SIPA) 2014, kemarin.
Diakui Atiah, ada dua orang dekatnya yang sangat berpengaruh dalam mengarahkannya berkecimpung dalam dunia tari. Di antaranya ibundanya, GRAy Retno Astrini dan almarhum GPH Herwasto yang tak lain adalah pamannya. Meski sempat ditempa dan diajari tarian di tanah leluhurnya, namun basik tari klasik yang dikuasainya adalah balet dan Indian dance atau tarian India.
Tapi meski sangat dekat dengan tari kontemporer dan balet, dirinya akan berusaha memperdalam tarian Jawa. Tak lain untuk meneruskan karya tari almarhum GPH Herwasto secara profesional.
”Saya sudah mulai aktif menari dan mengenal tari klasik sejak berusia lima tahun. Kemudian saat usia delapan tahun mulai menari balet dan kemudian memperdalam tari kontemporer. Tapi mulai tahun depan saya akan meluangkan waktu selama enam bulan untuk belajar tari-tari Jawa di Mangkunegaran,” jelas gadis yang berencana mengambil studi master di London Contemporary Dance, ini.
Terpilihnya Atiah sebagai maskot SIPA 2014 di luar dugaan. Dirinya tak menyangka akan menjadi maskot dalam event internasional yang akan digelar di Benteng Vastenburg, pada 14-15 September mendatang. (*/un/ida)

BAGIKAN

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here