Pelabuhan Tanjung Emas Belum Ideal

Pelabuhan Tanjung Emas Semarang, masih jauh dari kata ideal. Rob menjadi kendala serius. Dangkalnya pelabuhan, juga membuat kapal-kapal besar sulit berlabuh. Bagaimana pengembangan pelabuhan ke depan?

SYAHIDIN, seorang sopir truk yang baru saja menurunkan muatan barang di Pelabuhan Tanjung emas, wajahnya bersungut-sungut. Mulutnya tampak misuh. Entah umpatan apa yang ia ucapkan.
Perlahan, setelah diselidik koran ini, pria berusia 42 tahun itu tengah emosi. Ia mengaku, akibat kurangnya lahan parkir dan penjagaan di Pelabuhan Tanjung Emas, membuat dirinya harus kehilangan solar 30 liter.
”Jelas bagi kami sangat memberatkan, karena kurangnya penjagaan, kami harus kehilangan solar. Kejadian ini sudah terjadi 3 kali,” katanya.
Lahan parkir yang kurang representatif, membuat truk trailer Syahidin, terpaksa harus parkir di sembarang tempat.
”Seharusnya dari pihak pelabuhan punya lahan parkir yang luas, agar truk bisa diparkirkan. Tidak seperti sekarang ini, banyak truk yang parkir sehingga terkesan semrawut,” akunya.

Sopir truk lainnya asal Surabaya, Purhadi, 43, menyindir soal rob dan banjir yang butuh penanganan serius. ”Soal rob dan banjir harus ditangani secara khusus.”
Ia juga meminta ada pembatasan bagi tenaga kebersihan. Selama ini, kebersihan dilakukan pada siang hari. Ia menilai, hal itu sangat mengganggu. ”Paling tidak, ada tenaga dua atau tiga orang. Sedangkan lainnya, kerja pada sore sampai malam hari. Tidak seperti ini, tenaga kebersihan kerja semua,” katanya.

Sopir truk lainnya, Sunjaidi, 45, justru mengeluhkan pelayanan di peti kemas. Ketika barang impor datang, truk sudah lama mengantre. Oleh si petugas, justru peti kemas tidak segera dinaikkan ke trailer. Tapi justru sibuk menata peti kemas. ”Seharusnya peti kemas dinaikkan ke atas truk kemudian bisa menata lagi. Ini yang membuat macet,” katanya.

Umumnya, sopir truk juga mengeluhkan biaya masuk ke Pelabuhan Tanjung Emas. Per truk, dibebani membayar Rp 7.500. ”Bagi kami, membayar retribusi sangat berat. Di Jakarta saja, untuk masuk hanya Rp 5.000,” katanya.
Yang juga memberatkan, ketika masuk ke depo kontainer milik Pelindo, masih ditarik retribusi lagi, Rp 10.000. ”Padahal, per sopir, selalu keluar masuk 3 sampai 4 kali. Sehingga harus membayar sampai Rp 40 ribu.” Padahal, di tempat lain, cukup membayar Rp 4.000.
Ironisnya, tingginya retribusi, tak dibarengi dengan pelayanan yang maksimal. Tengoklah fasilitas jalan yang ada di sana. Masih memprihatinkan.
”Kalau masuk ke kawasan itu, selain jalannya yang rusak, truk kami juga rusak, karena memuat muatan yang berat, tapi jalannya rusak,” keluh Sunjaidi.
Terpisah, GM Pelindo Tri Suhardi mengakui, Pelabuhan Tanjung emas belum ideal. Ia mencontohkan, area masuk maupun keluar pelabuhan untuk penumpang dan barang masih jadi satu. Idealnya, harus terpisah.
”Memang masih digabung, tapi kita sudah punya master plan untuk pengembangan. Pemisahan area keluar masuk barang dan penumpang termasuk di dalamnya,” aku Tri.
Kendala lain, lanjut Tri, soal kebersihan. Menurut dia, hal itu penting untuk diatasi.
Selain tak sedap dipandang, sampah-sampah yang bertebaran, dikhawatirkan akan masuk ke saluran dan merusak pompa air.
”Saat ini, untuk mengatasi rob, kita gunakan sistem pompa. Nah, takutnya, kalau kotor, sampah-sampah malah masuk ke saluran dan akibatnya merusak pompa,” keluh Tri.
Kendati demikian, Tri mengklaim, pihaknya terus melakukan pembenahan, sesuai master plan yang sudah ada. Salah satunya, program modernisasi. Yaitu, menambah fasilitas-fasilitas di dalam pelabuhan, guna mempermudah dan mempercepat aktivitas di pelabuhan.
”Antara lain, kami tambah kedalaman lokasi untuk bersandar. Sehingga kapal-kapal besar bisa masuk. Dengan demikian, tidak perlu antre panjang. Proses keluar masuk barang maupun penumpang pun bisa lebih cepat,” ungkapnya.
Selain itu, ke depan, kata Tri, Pelindo juga berencana mengklasifikasikan area. Mulai kapal untuk penumpang, kapal dengan komoditas kering, basah, maupun kapal dengan muatan general cargo.
”Nantinya, kita pisah-pisahkan. Timur untuk penumpang, barat untuk pengiriman barang dan lain-lain.” Tri mengaku, untuk menata hal itu, butuh waktu dan bertahap. ”Harus dikaji dan ada izin dari sisi amdal juga, baru kita bisa jalan,” ujarnya.
Ia berharap, dengan upaya pembenahan yang akan dilakukan, para pebisnis lebih banyak menggunakan pelabuhan Tanjung Emas untuk melakukan pengiriman barang. ”Masalah rob sudah mulai kita atasi. Jadi harapannya para pebisnis tidak ragu lagi mengirim barang via Tanjung Emas.” (hid/dna/isk/ce1)