Jauhkan Lokalisasi dari Perkampungan

83

LINGKUNGAN permukiman warga yang dekat dengan lokalisasi, bisa disebut lingkungan yang kurang sehat. Sebab, di dalamnya, tentu melekat stigma buruk, mesti sebenarnya yang terjadi tidak demikian. Oleh karena itu, sebaiknya lokalisasi ditempatkan di wilayah terpencil; dan jauh dari masyarakat.
Hal itu diungkapkan psikolog dari Rumah Sakit St Elisabeth Semarang Dra Probowatie Tjondronegoro, M.Si.
Menurut Probo—sapaan intimnya—lingkungan yang dekat dengan lokalisasi memberi dampak buruk lebih besar kepada lingkungan masyarakat sekitar. Mesti, di satu sisi, juga memberi dampak baik, seperti kemandirian dan meningkatnya perekonomian.
“Ketika seseorang ditanya tinggal di mana, maka secara otomatis akan muncul kesan buruk ketika dijawab tinggal di lokalisasi. Begitu juga ketika diketahui bahwa ada seorang yang merupakan anak PSK, menjadikan anak itu rendah diri,” bebernya.
Selain itu, lanjut Probo, dengan tinggal di permukiman lokalisasi, masyarakat akan terbiasa dengan hal-hal yang ada di dalamnya. Semisal, kekerasan, minum minuman keras, dan melihat pemandangan orang yang berpelukan, berpakaian seksi, dan sebagainya.
“Ini tentu akan berakibat buruk kepada anak-anak. Sehingga kesan anak tumbuh dewasa sebelum waktunya, itu benar adanya,” ungkapnya.
Probo menegaskan, anak-anak selalu belajar dari model apa yang terekam di otaknya. Jika menu sehari-hari hal yang buruk, maka hal itu pula yang menjadi kebiasaannya. Sehingga mereka tidak tahu dan tidak sadar bahwa apa yang dilakukannya itu adalah hal yang salah. “Meski orang tuanya berusaha membentengi, namun kalah dengan apa yang didapatkan di luar.”
Disinggung upaya apa saja yang harus dilakukan orang tua untuk membendung pengaruh buruk lokalisasi, Probo membeber, hal pertama dilakukan adalah menjauhkan mereka dari lokalisasi.
“Misalnya, dengan menitipkan di tempat saudara atau jika muslim dapat menaruhnya di pondok pesantren, hingga anak tersebut dapat membedakan mana yang baik dan mana yang buruk,” ungkapnya.
Selain itu, lanjut Probo, harus dengan melakukan penguatan norma-norma agama di masyarakat sekitar. Juga melalui kegiatan sosial, sehingga anak-anak itu mendapatkan wawasan dan pengetahuan yang lebih di luar.
“Yang jelas, anak tidak boleh dibiarkan lepas kontrol. Orang tua harus disiplin menerapkan kapan jam belajar, bermain, dan tidak mudah permisif,” ungkapnya.
Untuk pemerintah, saran Probo, bisa lebih tegas mengatur pendirian lokalisasi. Semisal, menempatkan jauh dari perkampungan warga dan terus melakukan pendampingan kepada warga sekitar terkait pendidikan dan juga kesehatan.
“Memang tidak bisa dipungkiri bahwa lokalisasi tidak bisa dihilangkan. Tapi, dengan upaya tersebut paling tidak dapat meminimalisasi dampak buruk yang terjadi.”
Probo berharap, dengan adanya fenomena ini, masyarakat lebih tertata dengan baik. Sehingga kejadian seperti pelecehan seksual dan kejadian yang tidak diinginkan, terjadi akibat lingkungan yang tidak sehat. “Oleh karena itu, memberikan teladan yang baik kepada anak-anak adalah hal yang utama.” (fai/isk)

Tinggalkan Komentar: