“Komplain masuk ke saya dari pengusaha, beban Tanjung Emas semakin berat, bongkar kelamaan, biaya ngantre luar biasa.”

GANJAR PRANOWO


MESKI pengembangan Pelabuhan Tanjung Emas terus dilakukan, namun pelayanan belum bisa maksimal, selama kawasan tersebut masih kerap terendam rob. Selain melawan rob, pengembangan yang juga harus dilakukan adalah perbaikan manajemen logistik yang kerap merugikan pengusaha.
Gubernur Ganjar Pranowo mengaku kerap menerima komplain dari pengusaha terkait kondisi Pelabuhan Tanjung Emas. “Komplain masuk ke saya dari pengusaha, beban Tanjung Emas semakin berat, bongkar kelamaan, biaya ngantre luar biasa,” kata Ganjar, sembari menyebut beberapa keluhan tersebut.
Modernisasi Pelabuhan Tanjung Emas Semarang sendiri terus dilakukan. Untuk revitalisasi pelabuhan tahap I dan II sudah selesai 100 persen. Sedangkan tahap III sedang berjalan. Pembangunan tahap I sudah selesai pada 2011.
Pada 2012, pembangunan Pelabuhan Tanjung Emas memasuki tahap II. Pada tahap ini, dilakukan pembuatan sistem polder Pelabuhan Tanjung Emas, dengan progress hingga Desember 2012. Pekerjaan yang dilakukan, antara lain, pembuatan polder cluster III, pemotongan dermaga pelabuhan, dan pembangunan container yard seluas 3,2 hektare.

Selanjutnya, pada pembangunan Pelabuhan Tanjung Emas tahap III, dilakukan peninggian dermaga samudera, serta pembuatan sistem polder pelabuhan.
Tahun ini, pengembangan Pelabuhan Tanjung Emas dilanjutkan dengan pengaktifan kembali jalur rel KA untuk angkutan kontainer. Dua tahun lagi, ditargetkan angkutan kontainer dari Pelabuhan Tanjung Emas tak lagi menggunakan truk. Pemerintah memindahkan angkutan kontainer dari pelabuhan melalui jalur KA.
Dana sebesar Rp 30 miliar akan dikucurkan guna mengaktifkan jalur rel KA dari Pelabuhan Tanjung Emas menuju stasiun gudang, Semarang.

Gubernur Ganjar mengatakan, pengaktifan rel KA ke pelabuhan untuk memperbaiki logistik transportasi. “Tidak hanya efisiensi waktu. Karena kalau mau lewat jalan raya, jalannya pun rusak parah,” ujarnya. Ia mengatakan, problem manajemen logistik di Jateng harus segera terselesaikan, seiring banyaknya investasi yang masuk provinsi ini.

Kepala Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika Jateng Urip Sihabudin mengatakan, jalur rel KA pelabuhan menuju stasiun gudang, sebenarnya sudah ada.
Namun, karena lama tak difungsikan, sebagian ada yang terendam air dan di atasnya ada bangunan. Jalur tersebut akan difungsikan kembali guna mendukung transportasi angkutan berat melalui rel ganda.

Urip menambahkan, jarak pelabuhan menuju stasiun gudang sekitar 2,5 kilometer. Meski dekat, pembangunan rel tetap membutuhkan biaya tinggi. “Sebagai gambaran kasar, untuk membangun double track saja dibutuhkan sekitar Rp 20 miliar per 1 kilometer.”
Dengan pengaktifan tersebut, nantinya kontainer yang datang melalui kapal di Pelabuhan Tanjung Emas, tidak lagi diangkut melalui truk, namun KA. “Misalnya, yang mau diantar ke Pekalongan ya lewat kereta. Begitu juga ke daerah lainnya.”
Pengalihan moda transportasi angkutan berat tersebut dilakukan untuk mengurangi beban jalan raya. Utamanya jalur pantura yang sudah overload. (ric/isk/cel)