Bersorak saat Robot Sukses Lewati Rintangan

122

SEMARANG–Sebanyak 69 robot kreasi tim dari 24 perguruan tinggi, kemarin bertarung dalam Kontes Robot Indonesia (KRI) 2014 Regional III Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Jogjakarta (DIJ), Sabtu (10/5). Kompetisi digelar di GOR Jatidiri Semarang.
Sebelum dipertandingkan, robot-robot harus melewati serangkaian pemeriksaan, seperti penimbangan besar dan pengukuran dimensi. Ada empat kategori yang dipertandingkan dalam KRI, yakni kontes robot ABU Indonesia (KRAI), kontes robot pemadam api (KRPAI) beroda dan berkaki, kontes robot seni Indonesia (KRSI), serta kontes robot sepak bola Indonesia (KRSBI).
Dalam kontes robot tersebut, para suporter tampak bersorak ketika timnya maju berlomba. Sedangkan para juri tampak sibuk melakukan penilaian. Mereka akan mengacungkan bendera warna kuning sebagai tanda robot tersebut telah melewati rintangan.
Salah seorang peserta dari Polines Semarang, Agung Hari Purnomo, mengaku, mengalami kesulitan saat pembuatan robot, yakni masalah komunikasi robot manual dan robot otomatis. “Sehingga perlu kecermatan dan ketelitian dari pembuatnya agar bisa sinkron,” katanya.
Disinggung tentang masalah desain, Agung mengatakan tidak masalah karena desain itu bisa dibuat dengan mudah. “Untuk masalah desain robot itu bisa dibuat, tetapi yang terpenting menyingkronkan antara robot dengan komputer, sehingga bisa dengan mudah dapat dimainkan,” ujarnya.
Peserta lainnya, Daniel Santoso, dari tim Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga mengaku telah menyiapkan tiga unit robot yang akan dipertandingkan dalam tiga kategori lomba. “Kami membawa empat robot, satunya sebagai cadangan. Tim kami dibagi tiga, yakni R2C-R9 untuk KRSBI, R2C-Holypus untuk KRPAI berkaki, dan R2C-Aphrodite untuk KRPAI beroda,” bebernya.
Daniel mengaku, setiap tahun, UKSW menggelontorkan dana sebesar Rp 80 juta untuk membiayai persiapan menghadapi KRI, termasuk pada even kemarin. “Anggaran dana itu dipergunakan untuk pembuatan robot,” ungkap mahasiswa Teknik Elektro dan Komputer UKSW ini.
Aris Tri Wibowo, peserta dari Universitas Negeri Semarang (Unnes) mengatakan, untuk mengikuti lomba ini pihaknya telah menyiapkan satu robot humanoid soccer yang akan di pertandingkan pada KRSBI. “Dalam pembuatan robot itu, setidaknya butuh biaya Rp 40 juta,” kata mahasiswa Fakultas Teknik Unnes ini.
Ketua panitia KRI 2014 Regional III Jateng-DIJ Sarjuni mengatakan, pemeriksaan robot sebelum dilombakan menjadi prosedur kompetisi untuk menentukan kelayakan robot di setiap kategori yang di pertandingkan. “Pemeriksaan itu mulai dari penimbangan berat tidak boleh melebihi 50 kilogram,” jelasnya.
Dikatakan, para juara kompetisi ini akan kembali dikompetisikan pada KRI tingkat nasional di Jogja pada 18-22 Juni mendatang. “Jadi, ini merupakan seleksi regional, pemenangnya akan maju di tingkat nasional di Jogja,” katanya.(hid/aro)

Tinggalkan Komentar: