Awalnya Jualan Dipikul, Kini Punya 2 Warung

24

INTAN MAYLANI SD/RADAR SEMARANG
JATUH BANGUN– Lukito Suharno di depan warung baksonya di Jalan Durian, Banyumanik.

Lukito Suharno, Mantan Sopir Bus Malam yang Sukses Berbisnis Bakso

Lukito Suharno pernah berbisnis hasil bumi. Ia juga pernah menjadi sopir bus malam. Namun keberuntungan justru setelah dirinya membuka usaha kuliner bakso. Kini, dia sudah punya dua warung bakso. Seperti apa kisahnya?

INTAN MAYLANI SD,
Banyumanik

JATUH bangun dalam berbisnis sudah dirasakan Lukito Suharno. Setelah gagal dalam jual-beli hasil bumi, bapak dua anak ini banting setir menjadi sopir bus malam. Namun itu tak bertahan lama. Rupanya peruntungannya bukan di atas roda bus. Pria kelahiran Wonogiri, 14 Agustus 1963 ini akhirnya mencoba merintis bisnis kuliner pada 2000. Ia memulai usaha bakso di Indramayu dengan cara dipikul. Setiap hari, ia harus jalan kaki hingga 12 km. Panas -hujan tak dirasakan.
“Saya jualan bakso dengan dipikul selama 8 tahun hingga 2008. Setelah itu saya memilih mangkal,” ujar Lukito kepada Radar Semarang.
Kerja keras Lukito membuahkan hasil. Dari awalnya jualan dipikul, ia pun membuka warung bakso permanen. Bahkan, saat itu ia mampu membuka 4 warung bakso di Indramayu dengan 15 karyawan.
Namun dengan alasan ingin dekat dengan orangtuanya, pada 2011 Lukito memilih hijrah ke Kota Semarang. Di Kota Atlas, ia kembali membuka warung bakso dengan menyewa tempat di Jalan Durian Raya, Banyumanik selama dua tahun.
Warung bakso Lukito cukup berhasil. Pelanggan setianya terus bertambah. Ia pun mulai mencari tempat yang lebih luas. Lukito lantas pindah di Jalan Durian Raya No 50, depan Ruko Durian. Saat ini, ia dibantu 10 karyawan. Agar mudah dikenal, ia memberi nama bisnis kulinernya itu warung bakso dan mi ayam “Mbak Menuk”. Nama Mbak Menuk diambil dari nama istrinya. “Soalnya nama istri saya itu unik, jadi dijadikan nama bisnis aja deh,” katanya sambil tersenyum.
Anak pertama dari delapan bersaudara ini mengaku memiliki resep bakso turun temurun dari kedua orangtuanya. “Orang tua saya dulu kebetulan juga punya usaha bakso,” ucapnya.
Meski demikian, Lukito tetap membuat inovasi agar cita rasa baksonya berbeda dengan tempat lain. Misalnya, ia menambah ceker ayam dan tauge dalam baksonya. Hal ini membuat rasa bakso dan mi ayamnya lebih lezat. “Banyak yang bilang bakso buatan saya beda,” katanya.
Selain di Jalan Durian, Lukito juga membuka cabang di Bulusan, Tembalang. Meski tidak menggunakan sistem promosi, ia mampu mempunyai banyak konsumen. “Promosinya ya hanya dari mulut ke mulut atau gethok tular saja, Mbak,” ujar putra pasangan Almarhum Mintowiyono dan Sularni ini.
Diakui, pengalamannya berjualan bakso dengan cara dipikul membuat dirinya lebih tahan banting. Sebab, saat itu ia mengalami masa-masa sulit. “Dulu waktu masih mikul sempat bangkrut, sampai nggak ada uang buat makan,” kenang bapak dari Rizka Silfianti dan Repo Prakoso ini.
Ia juga pernah merasakan dua tahun tidak mendapatkan penghasilan. Baginya, semua kesuksesan saat ini diraih lewat proses panjang. Lukito berharap bisnisnya ke depan dapat semakin berkembang dan bisa membuka banyak cabang. “Harapannya, bisa membuka lapangan pekerjaan bagi orang lain,” katanya. (*/aro)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here