KENDAL—Musriati, 35, warga Desa Winong RT 03/RW 05, Kecamatan Ngampel, Kabupaten Kendal, sejak tiga tahu terakhir ini, menderita kanker getah bening di bagian lehernya. Ironisnya, warga miskin ini, sekarang tak bisa melanjutkan pengobatannya di rumah sakit, karena tak punya biaya.
Musriati menuturkan, selama setahun, ia bolak-balik Kendal-Semarang untuk kemoterapi di RSUP Dr Kariadi Semarang. Hal itulah yang membuat Musriati masih bisa bertahan hidup sampai sekarang.
Tapi, tutur dia, saat ini ia dan keluarga sudah tidak punya biaya untuk operasi atau konsultasi ke dokter. Hartanya sudah habis. Untuk kemoterapi pun, ia selama ini harus meminta surat keterangan tidak mampu (SKTM) dari Pemkab setempat dan Dinas Kesehatan.
“Saya tidak punya Jamkesmas maupun Jamkesda. Itu pun untuk biaya Semarang Kendal, harus ngutang sana-sini,” tutur perempuan yang kini hanya bisa berbaring di kasur lusuhnya itu.
Suami Musriati, yaitu Sahrudin, kini jadi pengangguran. Sebelumnya, ia bekerja di Sumatera. “Saya tidak mungkin meninggalkan isteri saya dalam kondisi seperti ini, karena tidak ada yang merawatnya,” katanya.
Sahrudin menjelaskan, pada 2009 silam, sang isteri punya benjolan kecil di lehernya. “Isteri saya menganggap biasa. Tapi, pada 2012 lalu, benjolan membesar lalu diperiksakan ke dokter, katanya kanker darah putih di leher.”
Ketika sang isteri menjalani kemoterapi di RSUP dr Kariadi Semarang, Sahrudin mengaku harus menginap di lorong rumah sakit maupun bolak-balik Ngampel-Semarang.   
Ia berharap ada donatur yang bersedia membantu biaya perawatan istrinya. “Selain utang, saya hanya bisa berharap pada orang untuk berbelas kasih kepada keluarga kami,” harapnya, pelan. (bud/isk)