SRAGEN–Tim verifikasi menemui kendala dalam melakukan pendataan tenaga honorer kategori dua (K2). Kendala yang paling menonjol, banyaknya pegawai honorer yang bekerja sebelum tahun 2005 sudah tidak diketahui keberadaannya. Menghilangnya para pegawai honorer tersebut membuat tim verifikasi kesulitan menemukan saksi hidup yang mengetahui data tentang waktu para tenaga honorer mulai bekerja.
Sekda Sragen, Tatag Prabawanto mengatakan, berbagai kendala ini membut tim verifikasi kesulitan melacak data honorer sebenarnya. Kendati demikian, tim tetap akan bekerja secara profesional dan objektif. Sulitnya melacak keberadaan tenaga honorer untuk dijadikan saksi itu dikarenakan yang bersangkutan sudah beberapa kali dimutasi atau mengundurkan diri. Bahkan, tidak menutup kemungkinan honorer tersebut juga sudah meninggal dunia.
”Kalau tidak ada saksi tenaga honorer yang bersangkutan atau yang bekerja sebelum tahun 2005, lantas kami harus bertanya kepada siapa? Hal inilah yang menjadi kendala tim dalam bekerja,” katanya kepada wartawan kemarin (9/5).
Selain kendala teknis, tim juga menemukan kendala lain. Seperti terjadinya kecemburuan sosial antara pegawai honorer satu dengan yang lain. Sehingga membuat tim verifikasi harus lebih hati-hati dalam meminta keterangan saksi. ”Tapi sudah kami tekankan kepada tim untuk tetap bekerja objektif dan profesional. Kami tidak ingin hasil verifikasi malah menimbulkan masalah di kemudian hari,” jelasnya.
Setelah langkah verifikasi oleh tim kelar, hasilnya nanti akan diumumkan secara terbuka. Sehingga seluruh masyarakat bisa melihat dan melakukan koreksi jika terjadi kekeliruan. ”Akhir bulan ini hasil verifikasi seleksi CPNS jalur K2 harus sudah dikirimkan ke BKN (Badan Kepegawaian Nasional),” ujar dia.
Sementara itu, Ketua Forum Masyarakat Sragen (Fomas) Andang Basuki meminta tim verifikasi tidak menjadi ”pemadam kebakaran” semata demi meredam gejolak protes di masyarakat. Tim harus bekerja secara profesional dengan menyajikan data sebenarnya. Kalau terbukti menemukan data palsu atau bodong, tim harus mencoretnya. ”Tim jangan hanya formalitas belaka dalam bekerja. Kalau menemukan data palsu harus dibuka,” desaknya. (in/un/ida)