Hanya Pindahkan Kemacetan

148

Gombel Baru Satu Arah

BALAI KOTA- Kebijakan Gubernur Jateng Ganjar Pranowo yang akan mengubah jalur Gombel Baru menjadi satu arah mendapat kritikan dari sejumlah pihak. Keputusan orang nomor satu di Jateng itu dianggap tidak menyelesaikan persoalan kemacetan di Jatingaleh. Justru akan memindahkan kemacetan di titik lain.
Pengamat Transportasi dari Universitas Katolik (Unika) Soegijapranata Joko Setijowarno mengatakan, kebijakan Ganjar yang menjadikan jalur Gombel Baru menjadi satu arah merupakan solusi jangka pendek. Hanya mengubah titik kemacetan pindah ke pertigaan Bukitsari tepatnya di titik putar menuju Gombel Lama. Sebab, kendaraan yang dari tol yang ingin ke arah utara harus berputar melalui Jalan Gombel lama. Sementara kendaraan dari arah selatan dan dari arah Bukit Sari juga akan melewati jalur tersebut. “Solusi yang paling tepat adalah transportasi massal. Mengubah pola masyarakat untuk menggunakan angkutan umum dalam bepergian,” katanya, Jumat (9/5).
Menurutnya, Jalan Teuku Umar pada jam tersibuk antara pukul 07.00-08.00 arus jenuh total sebesar 11.681 simpang per jam. Nilai tersebut menunjukkan Jalan Teuku Umar termasuk dalam kategori tingkat jalan E dan terjadi kemacetan pada waktu sibuk jalan. Jam puncak arus lalu lintas di ruas Jalan Teuku Umar pada pukul 06.30-08.30, kemudian pukul 11.00-14.00, kemudian pukul 15.30-18.00. “Perlu ada rekayasa di jalur tersebut. Pertama dari exit tol Jatingaleh, penutupan jalan exit tol Jatingaleh dari arah Banyumanik dan arah Krapyak pada jam sibuk pukul 06.00-18.00, bagi kendaraan masuk kota harus exit tol Tembalang (Undip), exit tol Srondol dan exit tol Majapahit,” terangnya.
Kemudian penutupan jalan dari arah jalan kampung pada jam sibuk pukul 06.00-18.00 bagi kendaraan ke arah kota. Penutupan u-turn di depan exit tol Jatingaleh arah Banyumanik pada jam sibuk, pengalihan arus dilewatkan jalan Gombel lama. “Sedangkan di pertigaan Jalan Kesatrian, sebaiknya kendaraan dilarang belok kanan masuk atau keluar dari atau ke jalan Kesatrian. Pergerakan belok kanan yang keluar dari Jalan Kesatrian diarahkan lewat jalan Jangli Krajan kemudian Jalan Candi Golf Boulevard-Jalan Dr Wahidin Sudirohusodo,” jelasnya.
Alternatif lain, lanjut Joko, pergerakan belok kanan yang masuk ke Jalan Kesatrian diarahkan lewat Jalan Teuku Umar-Jalan Sultan Agung-Jalan Sisingamangaraja-Jalan Sultan Agung-Jalan Teuku Umar-Jalan Kesatrian atau Jalan Teuku Umar-Jalan Dr Wahidin Sudirohusodo-Jalan Candi Golf Boulevard-Jalan Jangli Krajan-Jalan Kesatrian. “Alternatif ketiga, pertigaan Jalan Karangrejo atau kampus Unika, kendaraan dilarang belok kanan keluar dari Jalan Karangrejo (u-turn) langsung di Jalan Teuku Umar. Pergerakan belok kiri yang keluar dari Jalan Karangrejo Unika di arahkan lewat Jalan Karangrejo-Jalan Semeru Raya-Jalan Teuku Umar,” tandasnya.
Sementara itu sejumlah warga dan pengendara mengkritisi kebijakan Gubernur Jateng yang memberlakukan jalur Gombel Baru menjadi satu arah. Riyana, 31, warga Jalan Bukit Puncak II Bukit Sari mengatakan, kebijakan gubernur itu hanya akan memindahkan kemacetan di Jalan Setiabudi yang dijadikan u-turn kendaraan dari arah bawah (utara). “Persoalan utama bukan di Gombel Lama dan Baru, tapi di titik Jatingaleh itu. Kalau beloknya (dari bawah) harus ke Setiabudi dulu apa nanti di sana malah jadi yang macet,” ujarnya.
Menurutnya, lebih baik dilakukan rekayasa lalu lintas tanpa harus memberlakukan satu arah di jalur Gombel Baru. “Misalnya  lalu lintas dari arah stadion, dari arah itu lalu lintas tidak begitu signifikan jadi bisa dibelokkan ke Kaliwiru sekalian. Kemudian ke arah Kesatrian harus ditutup tidak boleh crossing ke kanan.  Karena itu juga membuat macet,” katanya.
Warga Ngesrep, Sucipto, 53, mengaku sangat setuju dengan penggunaan jalan Gombel Baru jadi satu arah, karena dapat mengurangi kemacetan.
Terpisah, Wakil Ketua Komisi C DPRD Kota Semarang Agung Budi Margono mengatakan, kebijakan Gubernur Jateng melalui Dishubkominfo yang akan memberlakukan jalur gombel lama satu arah itu merupakan solusi jangka jangka pendek. “Jangka panjangnya pemerintah harus komitmen mengembangkan transportasi massal. Sekarang ini untuk jalur selatan sudah ada koridor II (Terboyo-Sisemut). Pemerintah harus bisa mengembangkan koridor II dengan penambahan armada,” ujarnya. (zal/hid/ton)